Yayasan Kampoeng Bali Berdayakan SDM Lemah Hadapi MEA

1077

Menghadapi persaingan usaha dan dampak negatif lainnya dari pasar bebas Asean ( MEA ), berbagai cara dilakukan sekolompok agar tetap eksis, salah satunya dengan mendirikan Yayasan sosial non profit oriented.Seperti yang dilakukan 15 Tour and Travel agent khusus wisatawan dari Taiwan dan Tiongkok,yang kunjungannya ke Bali semakin meningkat.

Yayasan Kampoeng Bali resmi  launching Selasa pekan lalu,. Yayasan ini didirikan secara resmi sejak Desember 2015 lalu, bertujuan melalukan kegiatan sosial dan wadah berdiskusi bagi pelaku industri pariwisata, khususnya di Bali, “ Awal berdirinya Yayasan Kampoeng Bali ini, dari ide  para pengusaha tour and travel untuk membuat wadah CSR atau sosial., “ jelas Ketua Pembina Yayasan Kampoeng Bali,Nyoman Sudiantara, usai Lauching, di Sanur.

Ke depan,kata Sudiantara,Yayasan mengajak rekan-rekan dari hotel, restoran, dan insan pariwisata lainnya, bukan saja kegiatan sosial, tetapi bersama-sama  berdiskusi tentang program sosial dan kondisi pariwisata Bali, ditengah ketatnya persaingan industri pariwisata, dalam menyikapi  kemajuan teknologi dan ekonomi di era  MEA.

Namun fokus darti Yayasan ini lebih pada kepedulian sosial,seperti bedah sekolah ,pendidikkan dan membantu peluang kerja bagi penyandang cacat, “ program kerja yayasan,melakukan kegiatan sosial secara rutinitas, seperti  bedah sekolah yang kurang layak, memberdayakan elemen masyarakat yang terabaikan,seperti kalangan tunanetra yang selama ini kesulitan mencari pekerjaan dengan upah layak,” jelas Nyoman Sudiantara.

“  Para tunanetra yang memilki keahlian massage akan kami salurkan ke hotel-hotel dan memberikan ketrampilan layaknya sebagai manusia normal, khususnya dalam menyikapi keterbukaan era MEA ini,” tandasnya, didampingi bendhara Yayasan Kampoeng Bali, Erri Tjendana, dan sejumlah pengurus Yayasan..

Kegiatan lainnya, juga melakukan seminar  mengundang Kementrian Pariwisata, Kementrian Komunikasi dan Informatika,termasuk Instansi terkait pariwisata. Untuk membahas pariwisata Bali, upaya agar  kebijakaan yang ada tidak over laping.   Seperti isu banyaknya perusahaan travel  ilegal, yang  menjual produk di Bali secara online tidak berlisensi, tidak ada payung hukumnya,yang merugikan berbagai pihak.

“ Kita berharap aparat dan pemerintah bisa membuat kebijakan yang tegas terkait hal ini,” tandas Sudiantara .Yayasan ini diharapkan menjadi wadah diskusi bersama dengan para stake holder.
Menurut Erri Tjendana,berkumpulnya para insan pariwisata dan stakeholder  dalam yayasan, membuka ruang diskusi demi kemajuan pariwisata di Bali,“Kita menargetkan 2 juta wisman Tiongkok, atau Taiwan berkunjung ke Bali.karena  sudah 15-20 tahun ini, kita mampu eksis  di segmen pasar Tiongkok,sehingga  perlu  sinergi dari semua pihak,” tandas Erri.

Pasar Tiongkok, kata Erri sangat potensial, mengingat jumlah populasinya mencapai 1,375 miliar,seiring meningkatnya ekonomi negara Tirai Bambu itu.. “Setiap tahun warga Tiongkok yang bepergian keberbagai negara  semakin meningkat, pertumbuhan ekonomi 2 digit, potensi sangat menjanjikan untuk menggiring mereka datang ke Bali atau Indonesia umumnya,” jelas Erri.

Kondisis semacam ini, selain memberikan pelang bagi tenga kerja, juga pemberdayaan masyarakat meningkatkan daya saing juga tinggi, “ Saya berharap  berharap pemerintah bisa menertibkan industri ilegal seperti travel agent bodong, atau usaha wisata lainnya yang tidak berijin, untuk menghindari  image buruk   wisata di Bali ( Nani ).Pengiurus Yayasan Kampoeng Bali