WITIP, Ketika Guru Ikut Magang 2

108

Tantangan Sekolah Kejuruan ke Depan
Tantangan ke depan adalah bagaimana menyelaraskan antara keinginan dan kebutuhan tenaga kerja dunia usaha dan dunia industri dengan kualitas lulusan sekolah kejuruan, khususnya jurusan pariwisata ini. Agar antara teori dan praktik tidak terlalu jauh perbandingannya.
Swisscontact WISATA II sudah membangun sistem bagaimana membangun hubungan baik antara sekolah-sekolah kejuruan pariwisata dengan industry tour and travel, ticketing dan perhotelan. Melalui pengembangan career center, job fair dengan dunia usaha dan industri, melakukan kerjasama praktisi hotel datang langsung ke sekolah untuk mengajar, sampai dengan membantu sekolah melalui program corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan, seperti memberikan bantuan satu set lengkap alat kitchen, kasur hotel lengkap dengan sprei dan bantalnya. Hal ini dikarenakan hubungan harmonis yang sudah dilaksanakan oleh Swisscontact WISATA II mempertemukan ke dua belah pihak tersebut.
Ke depan, tentu saja tantangan akan semakin berat, sekolah kejuruan harus mampu berdiri sendiri tanpa Swisscontact WISATA II. Hubungan yang sudah terjalin dengan baik harus terus dilanjutkan. Manfaat dari semua ini adalah kita membantu generasi muda bangsa Indonesia mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keterampilan mereka serta membantu pemerintah Indonesia mengurangi pengangguran.
Ketika sekolah kejuruan sudah mampu meluluskan siswa yang berkualitas dan terampil, saya yakin mereka tidak akan kesulitan untuk mencari pekerjaan, apalagi jika pihak sekolah tersebut sudah bermitra dengan dunia usaha dan industri perhotelah. Baik untuk menghadirkan praktisi ke sekolah maupun memberikan kesempatan siswanya untuk magang. Lantas, selanjutnya adalah apa yang harus dilakukan oleh Pemerintah?.

Lanjutkan program WITIP
Karena kewenangan SMK saat ini sudah beralih ke Pemerintah Provinsi, maka Dinas Pendidikan Provinsilah yang mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam memajukan sekolah kejuruan, apapun jurusannya termasuk jurusan pariwisata. Namun bukan berarti pemerintah Kabupaten/Kota lepas tangan begitu saja. Karena mensukseskan generasi muda untuk menjadi sumber daya manusia (SDM) yang handal dan terampil di masa yang akan datang adalah tugas kita bersama. Outputnya adalah lulusan anak-anak sekolah kejuruan ini mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keterampilannya.
Salah satu kegiatan yang bisa dilanjutkan (sustainable program) untuk meningkatkan kualitas guru sekolah kejuruan adalah Pemerintah melanjutkan program WISATA Teacher Internship Program (WITIP) atau guru magang/prakerin di duna usaha atau industri. Tidak hanya jurusan pariwisata, bisa juga merambah jurusan lain, teknik mesin, listrik, perbengkelan maupun lainnya.
Mengapa Dinas Pendidikan harus melanjutkan program ini, karena yang pertama kegiatan ini low cost (berbiaya rendah), bahkan sekolah-sekolah yang sudah memiliki MoU dengan dunia usaha atau industri bisa lebih mudah. Jika sebelumnya siswa yang magang, kali ini guru juga harus ikut magang. Kedua, program ini akan memberikan manfaat dan dampak pengalaman yang luar biasa bagi guru, mereka akan lebih percaya diri dalam mengajar, dikarenakan sudah mempraktikkan apa yang mereka ajarkan. Ketiga, program ini bisa dijangkau dengan melibatkan perusahaan atau hotel/industri/bengkel yang dekat dengan sekolah, bahkan waktunyapun bisa lebih fleksibel, bisa sabtu dan hari minggu sesuai kesepakatan. Dinas Pendidikan bidang Pendidikan Menengah (Dikmen) sudah harus memasukkan program ini menjadi program tahunan mereka.
Pemerintah hendaknya mendukung program guru magang ini melalui Peraturan Gubernur atau Bupati/Walikota agar pihak sekolah kejuruan bisa lebih leluasa dalam menjalankan program magang bagi guru kejuruan ini. Jadi, kerjasama tanggung jawab sosial antara industri dengan sekolah itu tidak melulu soal barang, namun juga berupa soft skills berupa praktik magang.
Selain Dinas Pendidikan, Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) juga bisa mengambil peran melalui kegiatan Job Fair, Dinsosnaker goes to school, memberikan pelatihan tambahan bagi siswa SMK drop out melalui Balai Latihan Kerja (BLK), pengembangan career center, sampai dengan tracer study yaitu pelacakan alumni sekolah-sekolah kejuruan di mana mereka berada, apakah sudah bekerja atau sedang kuliah di perguruan tinggi.
Semua itu kita lakukan demi generasi masa depan yang lebih baik, generasi yang membawa kejayaan bagi bangsa Indonesia. Ahmad Syaiful Bahri
Ayo, SMK Bisa!