Volunterism Menjaga Harmoni Kemanusiaan di Tengah Ancaman Erupsi Gunung Agung

26

Setiap hari sebanyak 20 relawan Pramuka bekerja secara sukarela membantu penanganan darurat bencana erupsi Gunung Agung. Mereka terbagi ke dalam beberapa tugas harian untuk mendukung Pos Komando (Posko) Tanggap Darurat Bencana Erupsi Gunung Agung, seperti dapur umum, penyaluran logistik, dan petugas call center.
Sedikit dari mereka yang terlibat dalam Evakuasi di bawah pengawasan Basarnas. Mereka yang tergabung dalam Pramuka Peduli Bali memiliki satu ruangan khusus untuk para relawan pramuka yang berada di lingkungan Posko Tanah Ampo, Karangasem, Bali.
Semangat volunterism Nampak sangat kuat; ini tercermin pada keputusan mereka untuk bertugas berbagi pemikiran dan tenaga penanganan darurat. Meskipun tidak pada aktivitas yang strategis, kontribusi anak anak muda ini, peran mereka sangat membantu operasional di dalam Posko. Pramuka
Peduli Bali, kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Nugroho, melibatkan unsur pramuka dari tingkat Penegak, Pandega serta Andalan se-kwartir daerah Bali secara mandiri mempersiapkan kebutuhan sehari-hari mereka, seperti mengelola dapur umum internal Pramuka.
Volunterism tumbuh dilatarbelakangi nilai-nilai yang melekat pada setiap individu.yang tergabung dalam pramuka memiliki banyak teman dari beragam komunitas. Pande Kharisma, salah seorang pramuka yang bertugas di call center, mengatakan dirinya tertarik menjadi pramuka karena berkeinginan memiliki banyak teman dan latar belakang lain.
“Saya tertarik ikut Pramuka, ya karena bahagia, banyak teman dan bisa bantu orang-orang.” Demikian juga rekan pramuka lain, Ni Komang Ayu Sawitri Widiantari, mengatakan dirinya ingin memiliki banyak teman. Komang merasa dirinya seorang militan dalam gerakan pramuka yang udah turun temurun dalam keluarga. Melalui pramuka, tidak hanya memiliki teman, tetapi Sawitri juga berkesempatan untuk berkeliling Indonesia.
Di tengah kondisi darurat, nilai-nilai yang ditampilkan para relawan Pramuka sangat luar biasa. Mereka berkarya dengan semangat sukarela, bahkan ada relawan pramuka dari Jakarta yang menggunakan uang pribadi untuk sampai di Posko Tanah Ampo dan membantu operasional penanganan darurat.
Semangat para pemuda ini, kata Sutopo perlu mendapat apresiasi, untuk terus dibina dan dikembangkan sehingga mereka menjadi relawan yang tangguh; mempunyai berbagai keahlian maupun ketrampilan.Sawitri menyadari bahwa ketika kondisi bencana, tentu ada masyarakat yang terdampak. Mereka berada di pos-pos pengungsian, “ Logistik menjadi salah satu kebutuhan yang penting bagi mereka yang berada di pos,“ kata Sawitri. Pada saat darurat tentu membutuhkan banyak tenaga.Saat ini, sampai Selasa ( 5/12) tercatat jumlah pengungsi sebanyak 63.885 jiwa, tersebar di 225 Kab/Kota se- Bali.
Indonesia, kata perempuan muda, yang berpengalaman di Pramuka ini, memiliki kekuatan terbesar untuk gerakan pramuka di antara negara-negara lain di dunia. Ini merupakan modal berharga terus mengembangkan voluntarisme di tengah nusantara yang rawan bencana, “ Rasa kemanusiaan yang ditunjukkan dapat menjadi inspirasi bagi kaum muda lainnya di negeri yang memiliki banyak potensi ancaman bahaya ini, “ imbuhnya.
Sutopo mengatakan, Pramuka Peduli, relawan secara tidak langsung dapat meningkatkan kapasitas dalam berkoordinasi. Mereka mempelajari tata kerja operasional posko, mereka dapat berjejaring dengan mitra kerja seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Palang Merah Indonesia, dan banyak lagi.
“ Pramuka dengan Trisatya dan Dasa Dharma diharapkan selalu hadir dalam penanggulangan bencana dan di lokasi masyarakat mengungsi, “ pesan Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Bidang Abdimasgana Mayjen TNI M. Herindra. ( Nani )