Tanpa Tarian Erotis, Penampilan Joged Bumbung Duta Jembrana Sukses Hibur Penonton

1039

Stigma negatif dimasyarakat terhadap kesenian Joged Bumbung yang sering diidentikan dengan tari erotis belakangan memang sangat mengkhawatirkan. Terlebih banyak Sekaa Joged  telah keluar dari pakem aslinya, hal ini menambah kekawatiran masyarakat. Seperti kita ketahui, Joged Bumbung merupakan tarian pergaulan masyarakat Bali, dikenal sejak tahun 1940-an. Hingga sampai saat ini, tarian ini masih tetap dipertontonkan di berbagai kesempatan.

Namun kini sejumlah sekaa Joged terus berusaha mendalami dan melestarikan tari Joged Bumbung agar tetap pada pakem tari Joged Bali klasik  mengedepankan  nilai etika. Seperti halnya  ditampilkan  salah satu Sekaa Joged Shanti Yasa, Banjar Rangdu, Desa Poh Santen, Kec. Mendoyo, Kab. Jembrana di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke XXXVIII di Panggung Terbuka Ksirarnawa, Taman Budaya, Art Center, Denpasar,Selasa (14/6) sore.

“Kita komit  tetap menjaga Joged Bumbung sesuai  pakem aslinya, sekarang banyak sekaa joged keluar dari aslinya. Mereka hanya mementingkan komersial semata, tanpa melihat efek yang ditimbulkan, “ jelas Ketut Wiarsa, salah satu perwakilan Sekaa Joged Bumbung Shanti Yasa.

Ia menandaskan,saat ini tampilan Joged Bumbung yang sebenarnya kepada masyarakat.Ia berharap pemerintah  tegas kepada Sekaa Joged yang menampilkan tarian erotis,”jangan sampai mengorbankan seni budaya hanya demi uang semata,”ungkap Ketut Wiarsa.

Antusias penonton  menyaksikan pementasan Joged Bumbung di panggung terbuka Ksirarnawa cukup tinggi meski cuaca kurang bersahabat karena turun hujan gerimis. Sebanyak 4 orang penari ditampilkan  menghibur   ratusan penonton, setidaknya 15 penonton  naik pentas  untuk Ngibing. Dalam setiap pentas joged bumbung, penari dengan paras cantik senantiasa mengundang penonton pria maupun wanita untuk diajak menari bersama yang disebut Pengibing .

Tak pelak lagi, kadang pengibing kerap melakukan gerakan nakal untuk menggoda penari.Disinilah keprofesionalan penari diuji, ia harus pintar mengatasi pengibing nakal, menjaga suasana tetap santun, dan tanpa menghilangkan unsur menghiburnya.

“Kalau ada pengibing yang genit atau nakal, kita gunakan teknik nangkis agar tidak sampai kena. Pernah saya ingin di cium, bahkan pernah juga diangkat oleh pengibingnya. Yang pasti, kalau penari tidak genit, maka pengibing tidak akan ikutan genit atau nakal kepada kita,” ucap Ni Made Widiasih salah seorang penari.

Siswi kelas 3 di SMA N 2 Negara tersebut berharap kedepannya tidak ada lagi joged bumbung yang erotis atau porno. Mengingat masyarakat luar akan dengan gampang menilai seni dan budaya Bali terutama Joged Bumbung, negatif.

“Jangan sampai kita menjelekkan Bali, karena Joged Bumbung itu sudah identik dengan Bali dan tradisi kita. Terlebih Joged sudah menjadi warisan budaya, yang harus kita lestarikan sesuai dengan pakem aslinya,” pungkasnya.

Dalam Pesta Kesenian Bali tahun ini, turut tampil berpartisipasi sekitar 9 sekaa joged dari perwakilan kabupaten dan kota se-Bali yang pentas dalam beberapa kesempatan berbeda. ( Nani )Tarian Joged