Status G.Agung Diturunkan Sebanyak 150 Ribu Jiwa Pengungsi Dipersilahkan Kembali Pulang Kerumah

31

Pasca diturunkannya status Gunung Agung dari level 4 ‘awas’ menjadi level 3 ‘siaga’ Gubernur Bali Made Mangku Pastika membantah rumor yang beredar jika para pengungsi Gunung Agung yang mencapai 150 ribu jiwa harus kembali ke rumah masing-masing.
Di Era sakarang tidak ada pemaksaan dalam bentuk apapun, termasuk kepada para pengungsi Gunung Agung, yang tersebar di 385 titik di Kab/ kota se – Bali, “ Kita hanya meminta dengan turunnya status G. Agung pengungsi yang mau pulang dipersilahkan keberangkatan mereka ke daerah dan desa masing masing akan difasilitasi, tetapi bagi yang mau bertahan juga diperbolehkan, “ tegas Mangku Pastika,saat ramah tamah dengan puluhan wartawan di pers room Pemrov. Bali, Senin ( 30/10 ) jelang hari Raya Galungan dan Kuningan, yang jatuh Rabu ( 1/11)
Ia mengatakan, setelah penurunan level tersebut hanya enam desa yang masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) dengan radius 6 – 7,5 km jumlah penduduknya sekitar 47 ribu jiwa,Sisanya tidak paksa, jika ingin pulang silahkan bukan berarti ngusir, atau masih mau bertahan di pengungsian tidak apa-apa.
Tetapi saya memastikan,tentu tidak nyaman hidup dipengungsian, tidur desak-desakkan, tidak bisa kerja dan serba terbatas.” Jelas Gubernur, didampingi Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali, I Dewa Gede Mahendra Putra. Untuk itu Ia berharap para awak media bisa meluruskan pemberitaan yang tidak benar beredar di masyarakat, karena penurunan status adalah hasil hitungan dan kewenangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Ia menegaskan,persoalan pengungsi bukanlah masalah untung dan rugi, karena menjadi kewajiban pemerintah memastikan keamanan dan kenyamanan masyarakat, semua harus mematuhi arahan dari PVMBG, karena hanya badan itu yang mempunyai otoritas terkait langkah-langkah yang harus dilakukan terkait aktivitas Gunung Agung.
“Kalau status diturunkan,dinyatakan aman untuk kembali ke rumah silahkan, bagi masyarakat yang masih termasuk dalam KRB, diminta bertahan di pengungsian tolong dipatuhi. Karena dia yang tahu melalui perhitungan yang modern dan cermat tentang arah letusan jadi tahun 1963 bukanlah menjadi patokan” jelasnya. Akan tetapi, semua pihak diharapkan tetap waspada karena kemungkinan erupsi masih ada.

Kepulangan pengungsi ke daerah asal, sudah disiapkan truck dan bus bagi para pengungsi, tinggal koordinasi saja dengan pemerintah, “ Selama masih ada pengungsi, maka status tanggap darurat akan terus berlangsung, karena terkait dengan masalah logistic, yang semakin menipis, khususnya ketersedian beras, tetapi kita sudah minta kepemerintah pusat, stock beras nasional disiapkan 200 ribu ton, “ jelas Mangku Pastika.

Memaknai Hari Raya Galungan

Bertepatan hari Raya Galungan Rabu (1/11),ia mengajak masyarakat Bali memaknai lebih dalam lagi, apalagi di tengah situasi Gunung Agung belakangan ini, “Kejadian aktivitas vulkanologi harus dimaknai masyarakat Bali, agar intropeksi apa dan yang sudah dilakukan , “ Untuk memupuk rasa persaudaraan kita,merayakan secara besar-besaran boleh, Ngelawar sah-sah saja, tapi ingat saudara kita yang kekurangan, bagilah sedikit, apalagi yang berada di pengungsian.Inilah moment tepat untuk lebih mempelajari Agama,bukan hanya perayaan semata.
“Pertanyakan diri sendiri dulu, sudah layakkah kita merayakan kemenangan Dharma. Sudahkan kita terbebas dari penyakit AIDSS yaitu Amarah, Iri, Dengki, Sombong dan Serakah? Jika sudah berarti sudah layak kita merayakan Hari Raya Galungan. Apalagi di tengah situasi seperti ini, haruslah kita kuatkan rasa persaudaraan kita,” tandasnya.

Seperti yang di siarkan PVMBG Aktivitas vulkanik Gunung Agung di Kab. Karangasem,Bali terus menurun. Dari analisis data visual dan kegempaan serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya,Minggu ( 29/10 ) pkl 16.00 WITA status G.Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).Meskipun sudah diturunkan menjadi Siaga, di seluruh area di dalam radius 6 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 7,5 km,dilarang ada aktivitas masyarakat di radius masih berbahaya.
Sebelumnya Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB menjelaskan, periode status Awas selama 37 hari sejak ditetapkan status Awas pada 22/9/2017. Meskipun status aktivitas Gunungapi Agung telah diturunkan ke Level III (Siaga), namun dipahami bersama, aktivitas vulkanik G.Agung belum mereda sepenuhnya,masih berpotensi meletus.
Daerah terdampak terdapat dalam radius 6-7,5 km, antara lain Dusun Br. Belong, Pucang, dan Pengalusan (Desa Ban); Dusun Br. Badeg Kelodan, Badeg Tengah, Badegdukuh, Telunbuana, Pura, Lebih dan Sogra (Desa Sebudi); Dusun Br. Kesimpar, Kidulingkreteg, Putung, Temukus, Besakih dan Jugul (Desa Besakih); Dusun Br. Bukitpaon dan Tanaharon (Desa Buana Giri); Dusun Br. Yehkori, Untalan, Galih dan Pesagi (Desa Jungutan),juga wilayah Desa Dukuh,daerah yang berbahaya. Masyarakat yang berasal dari daerah ini masih harus berada di pengungsian.
Pengungsi saat ini berjumlah 133.457 jiwa,tersebar di 385 titik. Sebagian besar pengungsi boleh pulang. Pengungsi dari desa/dusun diluar radius 6-7,5 km seperti dalam daftar desa/dusun tersebut di atas diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kab./Kota di untuk pemulangan pengungsi.
Bersama TNI, Polri, Basarnas, SKPD, NGO dan masyarakat menyediakan kendaraan,ditempatkan di pos pengungsian untuk mengangkut pengungsi pulang. Sebagian pengungsi pulang menggunakan kendaraan sendiri atau dibantu pihak lain. Meskipun status G.Agung diturunkan menjadi Siaga, namun status darurat penanganan pengungsi yang ditetapkan Gubernur Bali tetap berlaku, yaitu 27/10 – hingga 9/11/2017. Penyataan keadaan darurat ini diperlukan sebagai dasar dalam kemudahan akses penanganan pengungsi,“Masyarakat di sekitar G. Agung dihimbau tenang dan meningkatkan kewaspadaannya.Jangan terpancing berita-berita yang menyesatkan, “ himbau Sutopo, dalam pers release yang diterima koran ini. ( Nani )