Shrida Taste of Ubud Resto Gelar Diskusi Film Tentang Bali

1

Bali Inspirasi.Ubud-Bali,Shrida Taste of Ubud Resto kembali gelar bincang diskusi dengan sejumlah tokoh dan awak media.Kali ini yang disharing kan tentang kultur,budaya,dan seni.Salah satu nya mengenai film sejarah yang dikomposisi dengan budaya bali serta sejarah bali sebagai kultur yang sekira nya mampu menjadi inspirasi pembuat film yang lebih bermakna saat ini untuk kaum milenial ,sekaligus generasi penerus budaya dan kultur.

Shrida Taste of Ubud Resto sebagai wadah bincang dan sharing multikomunitas kali ini sengaja menampilkan pembicara yang masterpiece sebagai pengisi acara yang bertema kan budaya,kultur dan per film an yang ada di bali,khususnya ubud sebagai destinasi wisata yang sangat diminati dunia internasional.Sebagai Moderator; Yoke Darmawan, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Gianyar ;Anak Agung Bagus Ari Brahmanta dan David Hanan, sebagai pengamat kultur&budaya perfilman Indonesia dalam diskusi Komunitas Seni Perfilman di Shrida Taste of Ubud Restaurant, Sabtu, 22 Juni 2019 –

 

Moderator Yoke Darmawan, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Gianyar Anak Agung Bagus Ari Brahmanta dan David Hanan, pengamat perfilman Indonesia dalam diskusi Komunitas Seni Perfilman di Shrida Taste of Ubud Restaurant, Sabtu, 22 Juni 2019

Sampai saat ini, tidak banyak film fitur moderen tentang Bali. Padahal, banyak cerita atau latarbelakang tentang Bali yang dapat diangkat menjadi cerita utama untuk sebuah film non dokumenter. Sineas Bali, digadang-gadang jadi pelopor dalam mengangkat kekayaan pulau Dewata melalui film .

David Hanan, pengamat perfilman Indonesia dan perintis program Studi Film di Monash University Australia mencatat, film dokumenter tentang Bali telah banyak dibuat. Namun menurutnya, tak banyak ditemui film komersial yang dibuat oleh sineas asal Bali.

“Hanya sedikit orang Bali yang bekerja di industri film Indonesia sebagai penulis atau sutradara. Ada pengecualian penting untuk hal ini yakni, Putu Wijaya,” jelas David dalam diskusi Komunitas Seni Perfilman di Shrida Taste of Ubud Restaurant, Sabtu, 22 Juni 2019.

Menurut catatan David, film dokumenter terakhir tentang Bali dibuat oleh John Darling, sineas asal Australia yang bertahun-tahun tinggal di Ubud.

Sedangkan film-film Indonesia yang dibuat tentang Bali, kata David, justru dibuat oleh sineas nasional diantaranya, Djajaprana (Kotot Sukardi, 1955), Noesa Penida (Galeb Husein, 1988), Dongeng Dari Dirah (Sardono W. Kusumo, 1992) dan Sekala Niskala (Kamila Andini, 2017).

“Ada berbagai episode penting dalam sejarah Bali, dimana, Bali dan masyarakat serta budayanya telah menjadi subjek film atau mempengaruhi perkembangan film Indonesia,” jelas David.

Sementara, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Gianyar Anak Agung Bagus Ari Brahmanta mengatakan, ada banyak cerita rakyat atau legenda di Bali yang punya kisah menarik, yang sebenarnya bisa diangkat menjadi cerita utama film

“Kalau bicara sineas dari Bali, memang sedikit. Namun, banyak seniman Bali diluar perfilman. Hanya saja, kalau bicara soal cerita atau latarbelakang sebuah tempat untuk jadi kisah dalam film, Bali punya banyak cerita,” jelas Ari Brahmanta.

Pria asal Ubud Gianyar ini menambahkan, romantisme Jayapangus dan Putri Kang Cing We asal Cina, jadi salah satu kisah menarik yang melatarbelakangi daerah di Kintamani.

Romantisme yang sama juga terdapat di Bali Barat dengan cerita rakyat Jayapangus dan Layonsari. Bali juga punya kisah heroik pada masa pergerakan fisik dari sosok Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai.bali inspirasi

“Belum lagi, cerita sejarah tentang kerajaan-kerajaan yang sampai saat ini masih kita temui silsilahnya. Karena itulah, kami mendorong anak-anak muda menggali cerita-cerita itu,” jelas Ari Brahmanta.