Seberapa Tahannya Pancasila di Media Sosial

PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP KEBANGSAAN

1439
Pancasila dan Media Sosial

BALIINSPIRASI.COM – Diskusi terbuka yang diselenggarakan oleh Obrolan Warung Rakyat dan Pwi Bali di Gedung PWI Bali Lumintang Denpasar (26/8).dengan Moderator IwanDarmawan dan dengan narasumber Ketua PWI Bali Ig mb Dwikora Putra, Wakil ketua yayasan Widya Dharma Santi Stikom Bali Made Marlo Bandem, Pengamat Kebijakan Publik Ngakan Made Giriyasa, serta Wakil Ketua Panca Marga Provinsi Bali I Made Gede Rai Misno.

Dengan Peserta Diskusi dari berberbagai kalangan Pimpinan media, Jurnalis, tokoh masyarakat, Politisi juga undangan lainnya. Diskusi terbuka yang berlangsung santai namun sarat dengan kritikan dan makna tersebut diawali dengan pembahasan soal korelasi antara media sosial (Facebook, Twitter, Path,dll) dan media konvensional (media cetak,media online,dan media elektronik). Dalam pemaparannya Ketua PWI Bali Dwikora mengatakan bahwa karya jurnalistik konvensional tidak bisa disamakan dengan informasi yang ada di media sosial karena karya jurnalis yang berupa artikel berita dan foto di buat dengan berdasarkan fakta dalam bentuk data peristiwa yang berpegang pada konsep perimbangan berbeda dengan media sosial yang tidak sedikit membuat suatu tulisan atau status yang didasari oleh data yang palsu Hoax dan kadang media sosial digunakan untuk membuat tulisan yang bernada provokasi sehingga menimbulkan polemik ”Bagi kita medsos itu juga penting informasi nya bisa menjadi bahan liputan, ada kecepatan informasi pada suatu peristiwa secara timeline, namun tidak boleh kita telan mentah-mentah informasi yang disajikan di medsos” ujar Dwikora. ”Pers perlu bijak dalam menyikapi informasi di medsos,kepentingan bangsa Negara yang utama”sebut Ketua PWI Bali.

Narasumber lain pada pemaparannya mengatakan bahwa laju informasi saat ini sangat deras,dunia tidak pernah tidur dengan kehadiran media sosial sehingga bisa merubah kebutuhan informasi kepada masyarakat saat ini yang lebih mengutamakan aktualisasi diri”Kebutuhan masyarakat tidak saja sandang dan pangan namun kini kebutuhan akan powerbank,wifi,jaringan internet sudah menjadi pemandangan umum,tehnologi informasi tidak bisa dipisahkan lagi dengan manusia”kata Marlo Bandem dari Stikom Bali. ”Kehadiran Medsos telah merubah format media konvensional” terang Marlo.”Medsos sudah menjadi media dialog dua arah sangat masif sampai ranah privasi, begitu terkoneksi kita tak kuasa menolak apa yang dibagikan, apa yang di publis,terlebih sebuah informasi yang memicu emosi masyarakat” imbuhnya.

Narasumber selanjutnya adalah Giriyasa menambahkan,medsos saat ini sudah lebih banyak berbicara agama,suku ras dan golongan” Ada peluang sekaligus tantangan dari medsos itu sendiri.nah sekarang bagaimana supaya medsos itu bisa mengakarkan nilai-nilai pancasila”ujar Giriyasa pengamat kebijakan publik yang juga pengamat politik ini.”Itu menjadi persoalan ,Pancasila sudah menjadi dasar Negara itu sebagai sumber hukum jadi berbeda antara medsos dengan Pancasila karena tidak saling berkait“ lanjutnya.

Sementara itu Rai Misno mengatakan “Di zaman modern ini perang tidak lagi menggunakan tentara konvensional ,lebih sering perang informasi di media sosial “Ke khawatiran tehnologi informasi ini yang di pakai untuk merusak Negara,sementara dari segi kebijakan publik,Indonesia sangat longgar dalam membuat aturan kebijakan dalam menyerap tehnologi informasi yang berupa medsos ini “ujarnya.

Media sosial sudah menjadi kebutuhan masyarakat didalam menyerap informasi suatu kejadian secara timeline, seringkali informasi yang disiarkan Hoax atau berita bohong untuk itu masyarakat harus bisa memilah melihat kebenaran suatu tulisan atau berita dan foto di media sosial.Pancasila dengan lima silanya bisa menjadi pegangan masyarakat untuk bisa membendung pengaruh buruk yang bisa didapat di media sosial dewasa ini. (Ben)