ROBOTIC HUMAN LEADERSHIP, apa itu ?

6

Menjawab Tantangan Era Revolusi Industri 4.0 dalam Kepemimpinan di Kepariwisataan.

Penulis : K. Swabawa, CHA
Praktisi dan Akademisi Kepariwisataan

Tantangan terbesar dalam kepemimpinan di industri kepariwisataan dan perhotelan saat ini telah naik levelnya dari yang sebelumnya fokus pada efektifitas dan produktivitas menjadi kreativitas menghadapi gejolak dinamis ketidakpastian seiring melesatnya teknologi digital dewasa ini. Teknologi digital mempengaruhi perilaku customer, karyawan, situasi kompetisi serta yang tidak kalah pentingnya adalah pencapaian target bisnis baik financial maupun non-financial objective. Dalam kondisi seperti itu, para pemimpin usaha juga dituntut untuk bisa menyesuaikan level nya agar program kerja yang dirancang tetap in line dengan tuntutan jaman.

Dalam buku terbarunya yang berjudul “The Meaning Revolution”, Fred Kohman menuliskan ; How do I encourage each person to take full responsibility for his or her individual performance while, at the same time, make the right sacrifices to reach our company’s goal?. Statement tersebut dapat kita cermati sebagai strategi yang mengandung sensitifitas tinggi bagi seorang pemimpin perusahaan di era 4.0 ini. Bukan hanya sekedar melaksanakan job description-nya, namun mengorbankan yang bisa dilakukannya demi tercapainya tujuan perusahaan.

Era revolusi industri 4.0 untuk dunia pariwisata dapat kita lihat implementasinya dari berkembang pesatnya sistem penjualan lewat internet (online travel agent), sistem komunikasi dengan pelanggan melalui instant messaging, teknologi terbaru peralatan memasak dan mesin kopi, pelatihan secara online, priority software amenities (wifi, digital registration upon check in, welcome note on TV screen, online reputation management, etc), cleaning method technique, serta untuk terkait kekaryawanan diantaranya sistem kontrol dengan CCTV, mesin absensi yang lebih canggih, briefing dan announcement via WA Group, dan lain-lainnya.

Tanpa disadari, sesuai pemaparan di atas dapat kita perhatikan bahwa industri pariwisata dan perhotelan kita telah dimasuki sistem kerja ‘robot’ seperti otomasi, big data, transformasi, augmentasi dan sistem sensor kamera. Tidak bisa dihindari bahwa penguasaan teknologi informasi dan software application terkait unit bisnis yang dijalankan wajib dipahami dan dikuasai untuk mempermudah kerja operasional dan mencapai tujuan manajemen.

Pertama ; Dinamika Dalam Pengelolalan Kekaryawanan (Managing Human Resources)

Kita harus yakin bahwa keberhasilan bisnis pelayanan sangat tergantung pada kinerja karyawan dalam team work di setiap department / divisi. Kinerja dihasilkan oleh sistem manajemen dan tim yang terlibat di dalamnya. Dan semua ini diawali dari individu karyawan itu sendiri, menyangkut karakter – kompetensi – soliditas/loyalty – motivasi. Karakter, adalah suatu hal yang tidak bisa kita kontrol dan hanya bisa dikendalikan oleh diri yang bersangkutan sendiri. Karakter sangat rentan dipengaruhi oleh hal-hal dari eksternal diri seseorang. Dari lingkungan, gaya hidup, pengaruh media (sosial media dan informasi online) serta hiburan yang semakin memanjakan penikmatnya dalam berbagai bentuk dan fasilitas distribusinya. Kaitannya adalah seseorang pada saat bekerja, terikat dengan aturan dan standar perusahaannya sehingga pengaruh-pengaruh yang sempat dialaminya saat tidak bekerja atau di luar waktu bekerja di perusahaan harus bisa dieliminir dan ditransformasikan sesuai kondisi kerja itu sendiri. Di sinilah dibutuhkan kompetensi seorang pemimpin agar menguasai advance interpersonal skill through character reading and analysis.

Berikutnya, terkait kompetensi karyawan yang dituntut untuk mampu memenuhi trend-trend yang dapat menciptakan kepuasan pelanggan yang selalu dinamis dan volatile (bergejolak mengikuti trend). Penilaian kerja karyawan secara manual dan konvensional sudah sangat perlu ditingkatkan dengan menggunakan aplikasi software yang mampu menganalisa psikologi kerja sekaligus level of competency. Hasilnya adalah manajemen akan mendapatkan hasil yang lebih cepat, akurat dan spesifik dalam format statistik yang bisa diintegrasikan dengan alternatif solusi yang tepat sebagai tindak lanjut menuju peningkatan kompetensinya. Selain assesment model, kreatifitas manajer untuk mengadakan pelatihan untuk para karyawan dalam peningkatan kompetensi juga semakin dibutuhkan sehingga tidak terkesan monoton, obsolete dan tidak menarik. Module terbarukan dengan materi terkini dan cara penyampaian yang lebih segar bisa menjadi salah satu solusi selain pemanfaatan teknologi seperti webinar, e-library SOP, short training video yang di-blast di grup WA dan sejenisnya mungkin bisa memberi kesan ‘training jaman NOW’ sehingga dapat menarik minat para karyawan untuk mengikutinya.

What’s next ? Perilaku (karakter) dan kompetensi karyawan yang terpengaruh oleh dinamika era digital tersebut belum selesai sampai disana menjadi tantangan bagi seorang GM. Bahkan setelah kedua hal tersebut mampu ditangani dan diarahkan sejalan dengan platform visi san misi organisasi, berikutnya adalah menghadapi turn over employee. Informasi yang semakin gencar dan pertumbuhan hotel-hotel baru merupakan pendorong karyawan yang telah memiliki talenta dan kompetensi bagus untuk mencari “lahan kerja” yang baru. Bisa jadi karena promosi jabatan (upgrading), better working environment, better benefit atau alasan pribadi lainnya. Disini kita tidak bermaksud untuk melarang atau bahkan menghalangi proses kemajuan karir seseorang. Solusi dan antisipasi terbaik untuk kondisi tersebut bagi seorang GM terhadap dampak era digitalisasi ini adalah lebih memperhatikan konten dan konteks HR development programnya termasuk prosedur exit interview untuk menganalisa tingkat turn over ratio dan penyebab yang mendominasi. Untuk selanjutnya dijadikan kajian di manajemen dalam menentukan langkah-langkah berikutnya.

Untuk Bagian Pertama dalam sesi Robotic Human Leadership ini kita dapat mempelajari bahwa seorang pemimpin hendaknya mampu menyesuaikan pola pikir dan kompetensinya sebagaimana “robot” bekerja berdasarkan sistem dan sensitifitasnya. Semoga tidak ada yang mis-interpretasi seolah-olah manusia akan digantikan oleh robot secara pisik. Namun untuk beberapa sektor industri seperti trading, banking dan lainnya mungkin akan dan sebagian sudah terjadi, namun No Way for GM position and tourism industry as our core businesses are depended on human personal services.

Sampai jumpa pada Bagian Kedua dari sesi ini, semoga bermanfaat.
@swa