Home Edu Tourism ROBOTIC HUMAN LEADERSHIP, apa itu??? (Bagian ke-2)

ROBOTIC HUMAN LEADERSHIP, apa itu??? (Bagian ke-2)

9

Menjawab Tantangan Era Revolusi Industri 4.0 dalam Kepemimpinan di Kepariwisataan. 

                                                

              K. Swabawa, CHA – Penulis

                                                 

Penulis;

K. Swabawa, CHA

Director of Swaha Hospitality Management

Director of Operations Global Hospitality Expert (GHE)

VP-Academic of Indonesia Marketing Association (IMA) Denpasar

Vice Chairman IHGMA Bali Chapter

 

Sahabat pariwisata Indonesia, setelah bagian Pertama sebelumnya dijelaskan tentang Dinamika Pengelolaan Bidang Kekaryawan dalam Era Revolusi Industri 4.0, berikutnya akan ditambahkan lagi pemikiran dan strategi untuk hal-hal terkait business performance. Tentu ini semakin menarik jika dipelajari lebih dalam karena bagi seorang GM; kesuksesan hakiki dalam memimpin perusahaan adalah kemampuan memberikan keuntungan finansial yang maksimal (baca; tercapainya budget revenue and profit). Hal ini sangat erat relevansinya dengan strategi apa yang diterapkan dan bagaimana mengelolanya. Ready for next stage, guys? Here we go now…. on the second chapter of Robotic Human Leadership concept! 

 

 

Kedua ; Dinamika Dalam Pengelolaan Pemasaran dan Penjualan (Managing Sales and Marketing)

 

Professor Rhenald Kasali, guru besar bidang Ilmu Manajemen pada Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia dalam bukunya berjudul “The Great Shifting” (2018) menyebutkan bahwa “… ketika produk menjadi platform, kehidupan dan bisnispun berubah. Pertarungan berubah, bukan lagi antara pelaku usaha dalam industri sejenis, melainkan antar ekosistem, antar platform. Begitulah peradaban transformasi, kekuatannya berawal dari data menjadi informasi dan memberi pengetahuan…”.  Dan kita benar-benar rasakan di dunia perhotelan saat ini; bisnis platform akhirnya mengubah strategi pemasaran dan penjualan kamar-kamar hotel dan merambah ke produk sekunder seperti MICE, rekreasi, transportasi serta wedding dan lainnya. 

 

 

Sales call, product presentation, sales trip, exhibition, telemarketing dan “tradisi” sales activities lainnya seolah-olah seperti menjadi kegiatan “usang” bagi kebanyakan sales person dewasa ini, bukan keseluruhan tetapi kebanyakan dari mereka. Hal ini bisa jadi disebabkan karena trend saat ini memang digandrungi dengan fenomena ‘online’, ‘instant’ dan ‘internet’. Sebaiknya jangan buru-buru, lakukan pengecekan dan teliti lebih dalam lagi; berapa persen online resources yang mensupport produksi di hotel Anda? 100%?, 80%, 50% or just 40% maximum? Kecuali yang memang running at 100% online business, artinya masih ada kontribusi dari offline resources bukan? Baik wholesellers, retail agent , walk in guests atau mungkin direct booking by email to your respective reservation team. Sejujurnya, bukankah bisnis dari non-online lebih baik? In term of margin achieved and marketing cost effectiveness. Ok, managing sales office saya lewatkan dan tidak bahas lagi disini karena secara konvensional segitu-gitu aja. Yang terpenting di era digitalisasi dan transformasi ini adalah bagaimana seorang pimpinan hotel mampu merubah (baca: meningkatkan) kualitasnya dengan hal-hal yang sedikit risk taker; berani dan prediksi kuat dalam misi alternative baru sebagaimana teori ‘blue ocean’ itu.

 

Pernyataan “sekarang ini jamannya online Pak, jangan mimpi untuk avoid OTA dan bisnis online!” tolong jangan dihembuskan di sini. Saya pribadi setuju pada online business strategies, dan bahkan lebih setuju lagi jika online business tersebut mampu menaikkan occupancy rate disertai angka statistik yang mempertahankan average daily rate, REVPar serta NOP kita…. Lalu akan ada yang nyela seperti ini; “wah Bapak rakus nih, maunya serba enak aja! Gak mau rugi, maunya untung mulu….”. Sahabat, coba tanya dulu owner Anda, apakah ada pemilik perusahaan yang mau rugi untuk perusahaannya? We are not just a Hotel General Manager, we also the Business Leader of our company… remember it !

 

                                 

 

Disinilah peran penting seorang GM mendalami prinsip “flexibility” dan creativity yang terbarukan. Bukan fleksibel yang lentur,longgar dan bebas dalam arti plin plan atau mendegradasi suatu level. Bukan kreatifitas yang konvensional untuk persaingan yang di masa lalu. Sama halnya Robot yang bekerja dengan sistem analisa yang dimasukkan dalam microchip “otaknya”, perencanaan-pengawasan-keputusan yang diambil oleh seorang GM juga harus lebih strategic and analytic. Namun ada juga kasus lain terkait hal ini yakni adanya sebagian kecil kelompok pimpinan perusahaan yang gaptek (maaf) sehingga pekerjaan menganalisa hanya sebatas hitungan angka di kalkulator, dengan feeling dan mengkait-kaitkan dengan situasi yang ada. Bumi kiamat?? Oh no.. belum sahabat! Teknologi baru sudah diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia di era 4.0 ini, yang disebut sebagai artificial intelegence -AI (kecerdasan buatan). Misalnya berbentuk produk software application. Jadi, manfaatkanlah teknologi sehingga analisa pemasaran dan penjualan yang bermuara pada pendapatan dan keuntungan perusahaan bisa lebih akurat, tepat dan considerable untuk pengambilan keputusan ke arah plan B dan seterusnya (flexible and creative) jika diperlukan. 

 

Sebaliknya, untuk yang online business resources pada paragraf di atas; mengapa tidak ada bookingan yang masuk setelah beberapa hari bahkan minggu? Makanya jangan pasang harga dan menunggu saja, selain strategi konvensional dengan sistem Channel Manager dan Distribution Channel Program, tambahkanlah fitur analisa rate structure yang “lebih tinggi kelasnya” dari hanya sekedar yield management. Analisa lagi ya? Iya! Robotic Human Leaderhip kan? Mungkin kita tidak akan bisa mengalahkan kerja robot, tapi paling tidak cara kerjanya mesti dipahami dan disesuaikan. Analisa pada sistem robot muncul dari sistem sensor yang dipasang pada unit, pada manusia sensor ini adalah daya kepekaan terhadap situasi. Jadi tingkatkanlah kepekaan Anda untuk menangkap indikasi-indikasi yang terjadi lalu buatlah beberapa hipotesa pendukung menuju alternative plan

 

Kepekaan (sensitivity) juga dapat diterapkan ketika sedang berada dalam suatu jejaring sosial (social networking). Contohnya berasosiasi atau rapat dalam komunitas industri yang sama, konsep kemitraan ini dapat dimanfaatkan untuk menyerap hal-hal baru terkait banyak hal dengan pemasaran dan penjualan. Sebagian besar pimpinan menyebutnya sebagai ‘collaborative intelligence’ yaitu kecerdasan dalam berkolaborasi untuk mendapatkan keuntungan bersama, bukan keuntungan sepihak (egoism). 

 

Pada bagian kedua sesi Robotic Human Leadership ini kita dapat tarik suatu kesimpulan bahwa kemampuan menganalisa sesuatu hal menjadi hal yang esensial dalam merencanakan dan menjalankan program pemasaran dan penjualan. Didukung oleh pemahaman baru tentang fleksibilitas dan kreativitas, dan berani untuk menambah investasi pada bidang teknologi (hardware-software) serta meningkatkan strategic partnership

 

Good luck the Transformers ! See you on the next chapter…..

@swa