Home Budaya Renganis, Seni Olah Vokal Khas Desa Penglatan Buleleng

Renganis, Seni Olah Vokal Khas Desa Penglatan Buleleng

1359

Baliinspirasi.com — Kabupaten Buleleng memiliki banyak jenis seni olah vokal yang sangat khas. Selain genjek, ada juga seni renganis. Dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) 2015 di Taman Budaya Denpasar, seni renganis ternyata mampu menarik perhatian penonton yang datang dari berbagai daerah di Bali. Kelompok yang tampil di PKB itu adalah Sekaa Suara Ulangun, Desa Pengelatan. Mereka menampilkan tembang dandang gendis dengan cerita Raden Putra. Cerita Raden Putra adalah jenis cerita panji, yakni cerita percintaan antara Raden Putra dan Diah Ratna Kencana.

Desa Penglatan Kecamatan Buleleng, bisa dibilang seperti sebuah laboratorium untuk mengolah berbagai jenis seni suara dan sastra lisan. Memang, sejak tahun 1980-an kelompok-kelompok pesantian yang menembangkan berbagai jenis seni suara dan sastra, seperti kekawin, kidung dan geguritan, berkembang pesat di seluruh pelosok Bali. Namun tampaknya hanya para seniman di Desa Penglatan yang lebih berani memberi sentuhan nada-nada unik dalam tiap tembang-tembang yang mereka lantunkan. Atas keberanian itulah kemudian tumbuh sebuah kesenian langka dan teramat khas. Namanya seni renganis, sebuah seni yang memadukan berbagai unsur suara, seperti suara gamelan, geguritan, dan suara binatang, yang semua perpaduan itu dimainkan hanya dengan suara mulut.

Seni renganis lahir dan tumbuh dari sebuah kultur masyarakat agraris yang punya kecintaan begitu kental terhadap alam dan lingkungan. Diperkirakan, seni suara itu lahir sekitar tahun 1930-an. Saat itu, para seniman-tani masih punya waktu yang sangat luang untuk membuat karya seni bermutu tanpa pernah memperhitungkan imbalan. Suasana penciptaan saat itu masih begitu bergairah, sehingga dalam sebuah desa akan tercipta berbagai jenis kesenian meski tak seluruhnya bisa berkembang hingga kini. Renganis termasuk salah satu jenis yang bisa hidup hingga kini meski berkali-kali pernah ”pingsan” dan nyaris ”mati”. Untuk itulah seni itu diberikan tempat khusus dalam PKB tahun 2015 ini.

Renganis dimainkan oleh sekelompok orang yang kalau dalam musik pop bisa dipadankan dengan sebuah kelompok vokal tanpa musik. Dalam renganis, masing-masing orang memainkan nada yang berbeda-beda sehingga sebuah lagu akan terdengar sangat atraktif, meriah yang terkadang diselipi nada jenaka. Dalam istilah Bali, lagu-lagu itu dimainkan dengan suara mecandetatan. Dalam perkembangan selanjutnya, renganis terus mengalami pergulatan kreasi, kolaborasi dan modifikasi. Misalnya, mulai masuknya unsur-unsur cerita dalam tiap lagu-lagu yang dimainkan. (MAO)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here