Rancangan ISI Denpasar Tari Sekar Angkasa Pura Satu Jadi Maskot Bandara I Gusti Ngurah Rai

491

Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai selain sebagai pusat pelayanan moda transportasi udara, secara tidak langsung juga merupakan salah satu destinasi wisata di  Bali. Sebagai pintu gerbang utama, nuansa keindahan dan citra Bali akan dirasakan pertama kali oleh wisatawan ketika menginjakkan kaki di Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai.

Beranjak dari situlah, Manajemen Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan menggandeng Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar merancang tarian  khusus sebagai maskot atau ciri khas Bandara I Gusti Ngurah Rai.

“Kami sadar betul kekuatan alam dan budaya Bali, karenanya kami ingin menuangkan suatu kreasi gerak yang nantinya akan dijadikan salah satu maskot atau icon Bandara I Gusti Ngurah Rai’ ujar General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai Yanus Suprayogi.

Tarian yang diberi nama Sekar Angkasa Pura Satu ini berstruktur “tri angga” yaitu Pepeson (kepala) yang menggambarkan salam selamat datang, bagian Pengawak (badan) menunjukkan wejangan para pemimpin dalam mengelola bandara untuk memberikan layanan prima kepada pengguna jasa dan ditutup dengan Pengencet(kaki) yang mencerminkan kesigapan dan profesionalitas para petugas bandara.

Tari Sekar Angkasa Pura Satu yang beranggotakan 5 orang penari yang juga adalah pegawai Angkasa Pura  ini adalah buah kreasi dari Tjokorda Istri Putra Padmini sebagai koreografer dan I Nyoman Winda selaku Komposer. Diluncurkan di Institut Seni Indonesia Denpasar, Senin, (20/2)

“Sebagai wujud pelestarian budaya Bali, kami senang dan bangga bisa memiliki tarian khusus yang akan kami jadikan sebagai maskot bandara. Tarian ini juga sebagai persembahan dan hadiah ulang tahun untuk Angkasa Pura I yang tepat pada hari ini memasuki usia 53 tahun.” uambah Yanus.

“Apresiasi yang setiggi-tingginya kami sampaikan kepada Tim ISI yang sudah sangat membantu menciptakan tarian maskot ini”, ujarnya.Rektor ISI Prof. DR. I Gede Arya Sugiartha S.Skar.,M.Hum,mengapresiasi terjalinnya kerja sama antara ISI dengan Angkasa Pura I.

“Kami sangat terbuka lebar menjalin kerjasama dengan Angkasa Pura I, khususnya  dengan penciptaan karya seni. Tari maskot yang diciptakan ini, adalah jenis tarian sakral menjadi bagian dari suatu prosesi ritual agama. Karenanya penempatannya harus di awal kegiatan,” ucap Gede Arya. “Tarian ini diciptakan dalam waktu 1,5 bulan. Mencerminkan kesejukan, keramahan, ketulusan dan keindahan Bandara I Gusti Ngurah Rai, itu pesan pentingnya,’ tambah Gede Arya. ( Nani )