Quality Tourism; sebuah perspektif pada ekonomi kerakyatan

9

Begitu banyak dan luas yang harus dibahas terkait wacana Pariwisata Berkualitas. Hal ini dikarenakan industri pariwisata adalah sebuah industri yang meliputi multi disiplin ilmu serta memiliki dimensi kreatifitas yang tinggi dan fleksibel mengikuti trend serta gaya hidup masyarakat.

Selain menyangkut regulasi, jenis usaha, segmentasi pasar, struktur harga, standar kualitas produk, pemenuhan kebutuhan infrastruktur serta kualitas sumber daya manusia, sisi ekonomi kerakyatan merupakan hal yang penting juga untuk dibahas dalam rangka mendukung perwujudan Pariwisata yang Berkualitas. Sektor ekonomi yang dimaksudkan di sini adalah berbagai kegiatan ekonomi berbasis kerakyatan termasuk non-tourism yang berada, berdampak, berpengaruh dan memberi dukungan pada persediaan untuk pariwisata itu sendiri.

Hal ini mempertimbangkan bahwa potensi dan eksistensi usaha yang sudah ada agar tidak punah , justru lebih diperdayakan untuk menjadi great supporter bagi kebutuhan pariwisata. Secara direct-indirect impact kita dapat contohkan usaha transportasi beserta ikutannya (bengkel, toko spare part, SPBU, dll), usaha jasa keuangan (perbankan, lembaga perkreditan desa, dll), usaha perdagangan (suplayer, mini market, pasar tradisional, warung, dll) dan masih banyak lagi usaha lainnya seperti penyedia jasa (tukang cuci mobil, usaha laundry, tukang angkut barang, tukang parkir, dll).

“Ini yang kita ingin ada yang memikirkannya juga, jangan hanya pelaku usaha pariwisata saja yang dipaksa dan disalahkan bahwa kualitasnya harus bagus. Semua pihak harus bisa melakukan self assesment; bahwa kegiatan usahanya berpengaruh terhadap aktifitas leading sector di Bali ini yaitu Pariwisata. Jika mau hasil cepat maka setiap sektor berikutnya turunannya harus memulai membenahi standar nya mengacu pada core competency masing-masing. Mulai unit terkecil dengan panduan dari lembaga/institusi yang menaunginya”, demikian disampaikan K. Swabawa, CHA seorang praktisi sekaligus akademisi kepariwisataan pada suatu kesempatan di Denpasar, Bali.

Menurutnya, semua pihak harus mampu memahami definisi serta cakupan tentang konsep One Island One Management yang dicanangkan pemerintah provinsi Bali. Tidak hanya pada sektor pariwisata, dan tidak hanya perlakuan khusus pada daerah tertentu, tetapi agar memulai dari spirit “Bali harus maju bersama, Pemerataan pembangunan daerah, serta Integritas warga menuju Bali yang damai, sejahtera dan berkelanjutan”.

Sebagaimana kita ketahui bahwa sektor pariwisata yang menjadi andalan Bali berkembang dengan sangat baik dalam beberapa dekade belakangan ini dan diyakini akan tetap membaik kedepannya. Isu tentang wisata murah, travel agent nakal, kemacetan, minimnya fasilitas umum bagi turis serta kebersihannya merupakan tugas semua pihak untuk turut berpikir dan mengambil peran nyata dalam upaya perbaikan dan penataannya. Masyarakat yang semakin kritis dan cerdas harus dirangkul oleh pemerintah daerah dalam penyerapan aspirasi dan usulan konstruktif untuk membangun Bali. “Jadi libatkan masyarakat, ajak asosiasi-asosiasi serta pemikir secara praktikal untuk mendiskusikan hal-hal tertentu yang membutuhkan ekpertis-nya. Bali ini disegani dunia, pulau kecil dengan kekayaan keindahan alam-budaya-seni. Orang-orang Bali juga hebat kok. Jadi merangcang kembali pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan hingga ke desa-desa terpencil sudah sangat urgent ditengah revolusi industry 4.0 ini. Warga kita harus diberi kesempatan maju seluas-luasnya. Fokus harus bersifat global dan terukur alias Hyperfocus; melihat lebih luas, lebih dalam dan terealisasi,” pungkas Swabawa mengakhiri perbincangan singkat saat itu.