“Rural”Potensi Destinasi Karangasem Bali Mampu Memajukan Pariwisata Dalam Pemberdayaan

9

Bali Inspirasi.

RURAL TOURISM DESTINATION;
MEMAJUKAN PARIWISATA KARANGASEM MELALUI PEMBERDAYAAN
POTENSI DESTINASI

Industri pariwisata yang menjadi sektor unggulan bagi Indonesia umumnya dan Bali khususnya merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kreatifitas dan inovasi. Terutama memasuki era kesejagatan revolusi industri 4.0, kebutuhan dan perilaku konsumen yang semakin agresif dalam perubahan tersebut membutuhkan kreatifitas tinggi yang adaptif dalam bentuk produk, jenis layanan, pengelolaan, strategi pemasaran dan lainnya.

Melihat fenomena tersebut, Global Hospitality Expert (GHE), lembaga pengembangan sumber daya manusia bidang kepariwisataan dan konsultan manajemen destinasi berinisiatif untuk menyelenggarakan seminar bertajuk “Capturing Millenials Market for Rural Tourism Destination” di Kabupaten Karangasem pada hari Jumat 5 April 2019. Karangasem dipilih sebagai tempat penyelenggaraan seminar ini karena mempertimbangkan potensi destinasi di Bali Timur ini sangat luar biasa di dalam bersaing untuk menawarkan tren produk yang paling diminati di dunia saat ini yaitu pariwisata yang berbasis natural, heritage, environment, culture, spiritualism dan community based. Menurut President Director GHE, Yoga Iswara, BBA.,BBM.,MM.,CHA disampaikan bahwa jenis destinasi rural tourism ini semakin diminati akibat kemajuan teknologi yang tidak dapat dibendung dan cenderung semakin agresif. “Kemajuan teknologi mengakibatkan people connectivity semakin tidak berbatas, komunikasi secara instan dan ego driven factor menjadi budaya baru bagi masyarakat dunia. Ber-swa photo, meng-upload suatu destinasi yang baru – unik – exotic merupakan suatu kebanggaan bagi setiap orang.

Destinasi yang belum tersentuh, bahkan sulit dikunjungi dan memiliki diferensiasi tinggi adalah tujuan para petualang muda saat ini, yaitu generasi milenial itu sendiri. Hal inilah yang kami ingin kuatkan pada teman-teman di Karangasem bahwa potensi itu ada di sini. Potensi itu harus dikelola sebaik-baiknya dengan sistem manajemen dan regulasi pemerintah yang tepat sehingga golden moment ini tidak lewat begitu saja dan masyarakat tidak bisa mendapat manfaat yang semestinya sangat mudah diraih karena sudah di depan mata” demikian menurut Yoga Iswara.

Seminar yang bersinergi dengan PHRI BPC Karangasem dan IHGMA DPC Karangasem ini menghadirkan keynote speaker I Ketut Swabawa, CHA (Director Swaha Hospitality Management) dan tiga guest speaker masing-masing I Made Ramia Adnyana, SE.,MM.,CHA (Wakil Ketua Umum DPP IHGMA), I Wayan Kariasa, SH (Ketua PHRI BPC Karangasem) serta I Komang Astawa, CHT (Sekretaris IHGMA DPC Karangasem).

Ramia Adnyana, seorang tokoh pariwisata asal Karangasem yang telah malang melintang di dunia pariwisata hingga promosi mancanegara yang juga anggota badan penentu kebijakan pada Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Badung ini membawakan materi Strategi Pemasaran Jenis Pariwisata “Rural”.

“Karangasem ini jika dikelola dan diperjuangkan dengan baik, tidak kalah dengan destinasi di luar negeri seperti Vietnam, Maldives bahkan Buthan sekalipun. Ini bukan hal mustahil, kita lihat karakter destinasi di Karangasem ini sangat tepat sesuai kategori yang disebut Rural Tourism. Bahkan UNWTO sebagai badan pariwisata dunia di PBB mendefinisikan rural tourism sebagai destinasi yang jauh dari kehidupan modern yang menyangkut kemaceten-polus-kebisingan, mengedepankan pelestarian alam (natural environment), pelestarian peninggalan sejarah (heritage), pariwisata berbasis kerakyatan (community based tourism) serta yang terpenting adalah keunikan seni dan budaya yang luhur ( art and culture). Saya berpikir jika kita persiapkan dengan baik mulai saat ini, dalam jangka waktu ke depan dengan konsep rural tourism ini Karangasem benar-benar dapat menjadi role model of quality tourism di Bali. Ini semakin mudah dicapai karena tidak perlu pembangunan dan dana yang massive untuk mewujudkannya, hanya butuh keseriusan dan kemampuan khusus untuk bidang ini dengan konsep pemberdayaan dan penguatan. Tentunya peran pemerintah sangat penting untuk memfasilitasi tujuan luar biasa ini” demikian kata Ramia Adnyana yang juga calon anggota legislatif DPRD Provinsi Bali untuk daerah kampung halamannya di Karangasem, dengan nomor urut 03 dari PDI Perjuangan.

Sementara pada pemaparan intisari materi seminar, keynote speaker I Ketut Swabawa, CHA memberikan tiga pokok utama sub materi terdiri dari pengenalan karakter dan potensi jenis rural tourism destination, pemaparan customer behavior change pada millennials market serta strategi yang sesuai diterapkan di daerah destinasi wisata. Swabawa menyampaikan, “Kita di Bali masih berfokus pada pariwisata di Bali selatan yang sebenarnya jika mau jujur melihat dari segi business growth index, tidak berjalan linear dengan pertumbuhan kualitas secara bisnis. Semakin ramai tamu yang datang seharusnya profit perusahaan naik signifikan , tapi saat ini tidak seperti demikian karena pengusaha dituntut bersaing dengan kondisi pasar yang heterogen dan tidak dapat dikontrol; salah satunya perang tariff / harga kamar tidak bisa dihindari. Jika kita bandingkan dengan kondisi di daerah, contohnya di Karangasem ini; product differentiation nya sangat luar biasa seperti halnya jenis rural tourism yang diminati tamu mancanegara dan domestic ini merupakan unique selling point bagi Karangasem. Hal yang sama juga mirip seperti di Buleleng dari ujung timurnya hingga kawasan hutan Bali barat. Rural tourism kita di Bali belum tergarap secara khusus dan holistic, masih di-generalisir secara konvensional dalam strategi pembangunan dan pengelolaan yang umum.”

Dari seminar ini Swabawa berharap dapat ditindaklanjuti oleh para stakeholder kepariwisataan di Karangasem, baik masyarakat, kalangan industri dan pihak pemerintah
harus bersinergi dalam visi yang sama mewujudkan destinasi yang unggul berdasarkan potensi dan keunikan daerah yang dimiliki. Mampu mengidentifikasi, menginventarisasi dan akhirnya menyusun formula konsep rural tourism untuk Karangasem, selanjutnya diterapkan sebagai implementasi tagline yang telah disosialisasikan selama ini. “Nah, itulah menjadi salah satu bentuk nyata tagline Karangasem yaitu The Spirit of Bali ; menjadi penyemangat, inspirator dan taksu nya Bali dalam segala tatanan berkehidupan dan bermasyarakat”, tambah Swabawa.

Ketua PHRI BPC Karangasem, Wayan Kariasa didampingi Komang Astawa selaku pengurus IHGMA Karangasem menyampaikan apresiasi dan merasa bangga sekali akhirnya dapat menyelenggarakan sebuah event yang strategis dengan bersinergi dengan Global Hospitality Expert ini. “Kami baru dilantik sebagai pengurus PHRI BPC Karangasem tahun ini, jadi ini gebrakan sangat luarbiasa digagas oleh rekan-rekan dari GHE dalam mendukung keberadaan kami di ujung timur pulau Bali sehingga kedepannya diharapkan destinasi kami di Karangasem ini dapat sejajar dengan destinasi lainnya seperti Kuta, Seminyak, Ubud dan lainnya. Semoga kerjasama kami dengan GHE ini dapat berlanjut kedepannya, karena kami membutuhkan para expert yang benar-benar memahami industri ini tidak saja dalam pengelolaan namun dalam menganalisa dan meletakkan produk pada marketplace yang tepat. Astungkara Karangasem bisa maju dengan dukungan rekan-rekan luar biasa ini” demikian Wayan Kariasa yang juga GM Ashyana Candidasa ini.

Pada kesempatan tersebut juga, sebagai calon legislatif DPRD Prov Bali Ramia Adnyana sangat optimis bahwa tanah kelahirannya tersebut akan mampu bersanding dengan destinasi lainnya di Bali, tentunya dengan peran serta para regulator baik eksekutif dan legislatif secara holistic dan expert di bidang ini. Ramia sangat menyayangkan keberadaan turis di Karangasem baik di Candidasa maupun Amed dan sekitarnya hany bersifat short stay. “Bahkan banyak juga yang hanya sightseeing tour alias day trip ke Amed untuk diving dan snorkeling, Lempuyang yang dikenal sebagai Gate of Heaven, Mount Agung trekking, juga ke Tirtangangga dan Taman Ujung. Saya yakin jika regulator mampu memformulasikan dengan baik konsep 3A+A (Accessability-Attraction-Amenities + Ancillary) maka masalah ini akan selesai. Tamu datang ke Karangasem dan memiliki itinerary program yang mengesankan dalam 4-5 hari menginap. Ini akan luar biasa sekali selain membuat industri pariwisata semakin bergairah, masyarakat semakin sejahtera karena dampak pariwisata baik sebagai tenaga kerja maupun membangun usaha kecil dan menengah (UKM) dan pendapatan daerah juga akan tinggi sehingga mampu membiayai pembangunan hingga pelosok desa. Jadi gak ada lagi sebutan desa tertinggal, ramai-ramai meninggalkan desa untuk bekerja di Bali selatan dan sejenisnya. Semoga dilancarakan semuanya masyarakat memberi

kepercayaan kepada saya untuk ngayah sebagai anggota dewan pada DPRD Provinsi Bali, saat itu saya akan upayakan yang terbaik untuk tanah kelahiran saya Karangasem tercinta ! ” demikian Ramia Adnyana dengan optimis mengakhiri wawancara pada seminar hari itu.

Secara keseluruhan terlihat peserta sangat antusias untuk mengikuti seminar yang sangat jarang diselenggarakan di bumi lahar ini. Ini dapat dilihat dari kedatangan peserta yang sangat tepat waktu bahkan ada yang mendahului 30-45 menit tiba di lokasi seminar. Kegiatan diawali dengan menikmati makan siang bersama dan dilanjutkan dengan agenda utama seminar selama 4,5 jam yang dimoderatori oleh Fransiska Handoko, CHA.,CHIA dari GHE sekaligus GM Risata Bali Resort & Spa dan diakhiri dengan sesi interactive tanya jawab peserta dengan para narasumber. Sebelum acara bubar, peserta masih disuguhkan hidangan rehat kopi beserta snack sambil proses pembagian sertifikat peserta seminar yang disiapkan oleh Global Hospitality Expert.bali inspirasi