Perkembangan KUPVA di Bali Bakal Melambat

420

Meski menunjukan perkembangan jumlah Kegiatan  Usaha Penukaran Valuta Asing ( KUPVA ) di Bali tren yang positif  mengingat perekonomian Bali sebagian besar ditopang industri pariwisata. Namun seiring dengan berkembangnya sarana pembayaran non tunai dan banyak wisman yang melakukan penarikan rupiah melalui mesin ATM, kedepan prosfek  KUPVA pertumbuhannya melambat.

“ Hal itu disebabkan diantaranya semakin tingginya transansaksi ATM dan perbankan, kami ingatkan kembali  industri KUPVA sangat rentan untuk dijadikan sebagai sarana dalam berbagai modus kejahatan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme, “ jelas Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali , Causa Iman Karana, saat Sosialisasi Peratursan  PBI No.18 /20/PBI -2016 tgl3 Okt.2016 dan SE No 18/42/DKSP tgl 30 Nopember 2016 Selasa ( 28/2 ) di BI Renon.

Causa Imam Karana menjelaskan, Penyelenggara KUPVA diwajibkan  agar  menerapkan CDD (Customer Due Diligence) dan EDD (Enhanced Due Diligence) dalam setiap transaksinya, salah satunya melakukan pencatatan identitas nasabah serta menyampaikan Laporan Transaksi Keuangan Tunai (TKT) dan Transaksi Keuangan Mencurigakan (TKM) secara benar dan akurat kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

“ Dengan pemahaman dan penerapan CDD dan EDD dalam kegiatan sehari-hari, diharapkan Penyelenggara KUPVA BB ikut berperan aktif dan berpartisipasi dalam mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme, “ tandas  Causa.

Sampai  Januari 2017, total Penyelenggara KUPVA database  BI Prov. Bali berjumlah 689 kantor, terdiri dari 142 Kantor Pusat (KP) dan 547 Kantor Cabang (KC), meningkat 78 kantor atau 13% dibandingkan akhir tahun 2015 sebanyak 611 kantor, dengan masing-masing peningkatan sebanyak 10 KP dan 68 KC.

Nilai Transaksi total dari seluruh KUPVA  sepanjang tahun 2015 mencapai Rp29,4 triliun, yang terdiri dari transaksi pembelian sebesar Rp14,7 triliun dan transaksi penjualan sebesar Rp14,7 triliun. Tahun 2016, total transaksi jual – beli valas mencapai Rp31 triliun, dengan total pembelian dan penjualan masing-masing sebesar Rp7,2 dan Rp7,4 triliun atau meningkat 5,78%.

Sebagian besar dari KUPVA di di Kab. Badung, Kota Denpasar, dan Kabupaten Gianyar, dengan masing-masing pangsa sebesar  70%, 12 %, 10%, sisanya 5 % tersebar di Kab.  Buleleng, Karangasem serta Tabanan dan 3% diluar Bali.(Nani )