PB3AS: Wadah Masyarakat Bali Bebas Bersuara

959

Denpasar, 28 Juni 2015, Seperti biasa, pagi ini Lapangan Niti Mandala Renon ramai dikunjungi warga kota yang sedang berolah raga atau ingin menghabiskan waktu bersama. Di tengah-tengah keramaian pagi ini, ternyata ada salah satu spot yang menarik perhatian karena terdengar suara-suara penuh semangat dari sana. Selain itu, terlihat beberapa aktivis dan wartawan yang juga sedang berkumpul.

Di tempat tersebut tengah berlangsung kegiatan Podium Bali Bebas Bicara (PB3AS). Terlihat, satu per satu orang yang maju ke atas podium untuk menyuarakan pendapat. Siapapun yang maju dibebaskan untuk menyuarakan pendapat mengenai fenomena yang terjadi di sekitar. Pagi ini, ada yang menyampaikan pendapat mengenai perbedaan perhatian pemerintah akan eksistensi seniman dibandingkan dengan atlet sepak bola. Selain itu, ada juga yang menyampaikan himbauan kepada Walikota Denpasar untuk menghadiri simakrama.

podium bicara 2Kegiatan pagi ini juga diadakan sekaligus untuk memperingati empat puluh hari meninggalnya Angeline. Menurut penuturan Luh Putu Anggreni dari Lentera Anak Bali, kegiatan ini merupakan salah satu upaya menggalang dukungan masyarakat untuk mengawal penyelesaian kasus Angeline. “Sebelumnya, sudah diadakan beberapa kegiatan serupa di berbagai tempat dan saat ini kami ingin memanfaatkan momen Car Free Day untuk menggalang kembali dukungan itu,” jelas beliau. Seorang aktivis yang sejak awal fokus pada perkembangan kasus Angeline, Ibu Ipung, juga turut menyampaikan argumentasinya. Beliau memaparkan keprihatinan dan upaya-upaya yang perlu dilakukan terkait kasus Angeline. Hal ini pun berhasil mengundang berbagai pihak lainnya untuk ikut berpendapat. Selain itu, ada juga perwakilan dari seorang psikolog bernama Caecilia Nirlaksita yang juga sedang dalam pengusutan kasus ini. Belaiu menghimbau agar masyarakat mendukung dengan cara yang positif. “Jangan sampai melawan kekerasan dengan kekerasan juga,” ungkap Caecil. Acara berlanjut hingga pukul 10.00 WITA. Satu per satu pengunjung ikut naik ke podium dan menyampaikan dukungannya untuk penuntasan kasus Angeline ini.

Bukan hanya orang dewasa, anak-anak pun turut serta memaparkan argumennya. Aksi itu dilakukan oleh anak-anak dari Yayasan Grisa, Tabanan, yang juga datang dalam kegiatan ini. Selain menyampaikan pendapat, mereka juga menyayikan sebuah lagu yang mereka ciptakansendiri sebagai bentuk rasa empati kepada Angeline dan anak-anak lain yang mendapatkan perlakuan tidak baik. Dalam kegiatan ini, masyarakat yang hadir juga difasilitasi untuk menyampaikan dukungannya melalui aksi menandatangani petisi “Masyarakat Mendukung Kepolisian Segera Menuntaskan Kasus Angeline”. Rencananya, petisi ini akan disampaikan kepada pihak kepolisian pada tanggal 1 Juli nanti, sekaligus memperingati Hari Bhayangkara.

Secara keseluruhan, berlangsungnya kegiatan ini didukung oleh berbagai pihak, seperti yaitu LBH Bali, LBH Jakarta, Lentera Anak Bali, dan lain-lain. Diharapkan kegiatan ini dapat mengundang perhatian para stakeholders dan masyarakat untuk mengawal kasus Angeline agar segera terselesaikan. Selain itu, dengan adanya kegiatan PB3AS ini, masyarakat kota memiliki wadah untuk bebas menyampaikan aspirasinya secara langsung. (np)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here