Panen Perdana Padi Hibrida

23
Keterangan Foto : Wagub. Bali Sudikerta,Selasa ( 5/12) bersama petani Subak Tajen, panen padi Varitas Unggul Hibrida, di Desa Tajen,Kec. Penebel, Kab. Tabanan, Bali.

Imbas Erupsi Gunung Agung, Wagub Ajak Warga Wujudkan Ketahanan Pangan Bali
Ditengah kekhawatiran Pemrov. Bali menghadapi dampak Erupsinya Gunung Agung,terhadap kepariwisataan yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Bali, maka pertanian akan menjadi andalan Provinsi Bali.
“ Maka dari itulah semua pihak memiliki tanggungjawab mewujudkan ketahanan pangan, yang memliputi ketersedian pangan dan distribusi dan aksesesibilitasnya, “ tegas Wagub. Bali I Ketut Sudikerta saat Temu Lapang dan Gelar Teknologi Padi Hibrida dan Panen Perdana Padi Hibrida bertempat di Subak Tajen, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Selasa (5/12).
Panen perdana padi Hibrida ini, hasil kerjasama Balai Besar Penelitian Tanaman Padi dan Kementerian Pertanian.
Ia mengatakan, pertanian sector sangat penting menunjang perekonomian daerah Bali.Apalagi petanian menempati posisi kedua berkontribusi pada pendapatan daerah Provinsi Bali,setelah pajak kendaraan bermotor,“ Pendapatan bidang pertanian menyumbang PAD sebesar 14,9 persen dari seluruh pendapatan Provinsi Bali, “ jelas Sudikerta.
Pertanian menurutnya,tidak bisa ditinggalkan, terlebih apabila terjadi sesuatu dengan dunia pariwisata seperti saat ini imbas dari situasi Gunung Agung,sudah mulai terasa,Pertanian akan menjadi andalan Provinsi Bali. Sejak bertahun-tahun lalu ketersediaan beras di Bali surplus, produksinya mencapai 850 ton beras pertahun.
Sedangkan kebutuhan pokok beras hanya 400 ton per tahun. “ Walaupun demikian, momentum ini mengingatkan kita untuk melakukan penjagaan ketahanan pangan, terutama saat siaga bencana Gunung Agung,” kata Sudikerta.Selain itu, kata Sudikerta, infrastruktur harus menjadi perhatian, terutama irigasi saluran air yang bagus, peningkatan jalan-jalan produksi, penggunaan alat-alat berteknologi dan juga penggunaan bibit unggul guna peningkatan hasil secara maksimal.
“ Kami ber-Terima kasih Kepala Balai dan Kementerian Pertanian yang telah menyiapkan bibit unggul, teknologi pertanian, dan alat-alat panen berteknologi tinggi,” ujarnya.
Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Moh Ismail Wahab mengatakan Indonesia sejak tiga tahun ini sudah tidak mengimpor beras, ini berarti pemerintah mampu meningkatkan produksi beras sehingga bisa memenuhi kebutuhan beras sendiri.
Januari 2018 nanti,kata Mohamad Ismail Wahab, Indonesia akan mengundang FAO untuk mendeklarasikan swasembada beras Indonesia. Presiden RI Joko Widodo sudah mencanangkan pertanian modern,untuk menjawab keengganan generasi muda untuk kembali menekuni pertanian.
Untuk itu, BBPT Padi sudah menyiapkan varietas unggul Padi Hibrida dengan Varitas unggul,mampu menghasilkan padi kualitas tinggi, yang sekarang telah diterapkan di Subak Tajen Kec.Penebel Kab. Tabanan .
Kepala Desa Tajen, Gusti Putu Sumerta Yasa menjelaskan, panen padi di Subak Desa Tajen sebelumnya hanya mencapai 6-7 ton, namun saat ini setelah menerapkan bibit unggul Hibrida mampu menghasilkan 9-10 ton padi, dengan penerapan tujuh varietas bibit Hibrida berbagai permodelan, yang hasilnya mengggembirakan petani setempat.
Selain itu kebiasaan petani membakar jerami usai panen, saat ini sudah tidak dilakukan lagi.Namun dibuat kompos yang bermanfaat sebagai pupuk organik bagi sawah mereka.Perbandingan pendapatan menggunakan bibit biasa dengan bibit Hibrida selisih Rp10 juta per hektarnya,tentunya sangat menguntungkan, dan menarik bagi masyarakat menekuni pertanian.Diharapkan teknologi padi hibrida,bisa diterapkan di daerah lain, sehingga secara umum akan meningkatkan produktifitas padi di Indonesia. ( Nani )