Operasi Pemindahan Pesawat Rusak Akibat Kecelakaan, Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai Latihan Salvage

329

Pesawat Murai Air type Boeing 737-900 ER PK-CGT dengan flight number DPS 123 dari SUB – DPS mengalami Hydraulic Trouble, semua roda pendaratan tidak bisa dikeluarkan. Pilot mengambil keputusan untuk melakukan pendaratan darurat Belly Landing karena ketersediaan bahan bakar mulai menipis.
Segala persiapan untuk belly landing telah dipersiapkan oleh tim ARFF yaitu dengan melakukan runway foaming.Posisi pesawat setelah mendarat darurat tetap di runway sekitar 50 meter dari threshold 27 sehingga mengakibatkan block runway. Diketahui tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Kejadian itu merupakan skenario saat latihan salvage cluster Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai, Rabu (10/5) pukul 13.00 Wita rutin dilakukan setiap tahun.Untuk memastikan kesiapan personil, fasilitas dan prosedur pemindahan pesawat udara yang rusak di bandar udara, tim salvage cluster Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai melakukan latihan gabungan bersama tim salvage Bandara El Tari Kupang dan Bandara Internasional Lombok Praya dengan jumlah total 16 orang personil.

” Peristiwa hydraulic trouble dan tergelincirnya pesawat merupakan hal yang sering terjadi dalam dunia penerbangan kejadian seperti ini menuntut kesiapan dan kesigapan dari tim salvage personil ARFF.” General Manager Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai, “ jelas Yanus Suprayogi.

Latihan salvage ini mengundang stakeholder airlines dan ground handling dengan tujuan mensosialisasikan bagaimana proses salvage dilakukan dalam upaya pemindahan pesawat udara yang rusak di Bandar Udara. Manjemen Bandar Udara I Gusti Ngurah ingin memperlihatkan kepada stakeholder bahwa unit ARFF memiliki alat salvage.

“Sangat berguna sekali acara ini bila suatu saat terjadi kejadian seperti ini di Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai telah memiliki fasilitas pemindahan pesawat udara yang rusak ” ujar Kadek Surya Engineering Indonesia Air Asia.

Dari latihan salvage ini Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai dapat mengetahui waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan airbag dengan tinggi 2 meter adalah 12 menit, “Ini merupakan hasil yang memuaskan, dan kami berharap kedepannya personil ARFF tetap sigap dalam menghadapi situasi seperti ini,” imbuh Yanus. ( Nani )