Nikmati Wisata Gunung Merapi di Jogja Puluhan Wartawan Bali Rela Berpanas Panas dan Berbasah Kuyup

2
Puluhan wartawan bersama Tim BI Bali, dalam rangkaian Lokakarya Kehumasan & Kebanksentralan menjajal Lava Tour dengan Jeep terbuka mengeliling objek wisata Gunung Merapi, Sleman Jogjakarta, yang erupsi tahun 2010 lalu.

Sektor pariwisata masih menjadi unggulan di Bali. Namun perkembangan dan kemajuan pariwisata Bali,tentu banyak terjadi kekurangan yang perlu dibenahi menghadapi persaingan global, apalagi terimbas bencana Gunung Agung belum lama ini.Dalam hal ini, Bali bisa belajar dari kebangkitan Jogjakarta dalam memberdayakan masyarakatnya disektor pariwisata pasca letusan dahsyat Gunung Merapi yang terjadi 2010.
Kehancuran total material dan menelan korban jiwa akibat letusan Gunung Merapi, sebanyak dua kali tidak membuat masyarakat sekitar Gunung Merapi, yang dikeliling puluhan Desa terdampak, hilang harapan untuk bangkit dari keterpurukan. Untuk melihat lebih jauh bagaimana pemerintah dan masyarakat Jogja meningkatkan ekonominya, Bank Indonesia Wilayah Bali, disela Lokakarya Kehumasan dan Kebanksentralan, mengajak 25 wartawan untuk Lava Tour ke Gunung Merapi, dengan menaiki Jeep terbuka selama hampir 3 jam.
Dikawasan ini, wisatawan diajak mengililingi dan melihat betapa dahsyatnya letusan Gunung Merapi.Hampir semua areal radius puluhan kilometer, jangan berharap kita bisa melihat rumah penduduk,atau kehidupan masyarakat desa, “ Sejak Merapi meletus 2 kali yang paling dahsyat 2010 lalu, warga desa sudah tidak diperbolehkan lagi menghuni kawasan Merapi, mereka sudah direlokasi keberbagai desa zone aman,disini hanya ada kegiatan penambangan batu dan pasir gunung,posko serta gedung Museum MGM, “ jelas Robertus Setiadi akrab dipanggil Asep, Koordinator Komunitas Jeep Lava Tour.
Walau tanpa kemasan wisata zaman now, wisatawan dengan memanfaatkan kendaraan Jeep berkapasitas 4 orang, bisa mengunjungi Banker berukuran 6 x 4 dilengkapi kamat mandi, yang menjadi saksi bisu tewasnya 2 relawan saat awan panas menerjang dusun Kaliadem, desa Kepuharjo Kec. Cangkringan, Kab. Sleman Jogjakarta, “ Banker ini, tidak mampu menahan terjangan awan panas,saat 2 relawan mencoba mencari perlindungan, mereka tewas mengenaskan, “ kata Asep.Tempat sekarang menjadi objek wisata, bersama sebuah rumah, yang hancur milik Pak.Kimin dan Wati,yang dijadikan Museum mini, berisikan semua peralatan rumah tangga, dan kerangka hewan ternak Kerbau dan Sapi.
Masih disekitar Gunung Merapi,kita juga bisa menyaksikan bekas bangunan rumah juru kunci G. Merapi Mbah Marijan,makam dan sebuah Moshalla yang dibangun diarea rumah Mbah Marijan,“ Mbah Marijan wafat saat G Merapi meletus, ia mendedikasikan hidupnya menjadi juru kunci G Merapi,” ujar Asep, yang saat kejadian masih duduk sekolah SMA, ia mengaku tidak bisa melanjutkan sekolah sampa Perguruan tinggi,karena keluarganya terdampak Erupsi Merapi.
“ Kami pemuda kelahiran desa terdampak erupsi gunung Merapi sebagian besar memilih untuk jadi driver, guide, sekaligus pemilik mobil Jeep untuk Lava Tour, dengan 28 Komunitas , dengan 800 Unit Jeep, secara bergiliran mengantar wisatawan dalam dan luar negeri untuk menikmati alam Merapi, “ ungkap Asep.Ia menyebutkan dengan tariff Rp 400 ribu, sekali jalan, mampu meningkatkan ekonomi keluarga. Setidaknya, 2- 4 kali jalan setiap hari, mereka mampu menghasilkan income jutaan rupiah, “ Bencana alam tidak bisa ditolak, tapi hikmah besar perbaikan ekonomi sekarang kami rasakan, “ kata Asep.
Selain itu, kata Asep bebatuan besar dan galian pasir diradius bencana membawa berkah tersendiri, dikawasan ini, Nampak ratusan truk truk berselewiran mengakut pasir dan batu untuk dibawa keluar desa memenuhi pesanan proyek bangunan.Pohon pohon dan rumput untuk makanan ternakpun tumbuh subur, “ Diselingi adventure rva Tour, melewati jalan berbatu dan berlubang, ditambah adventure di sungai galian pasir, Jeep mengajak wisatawan berbasah basah, menjerit sebuah wisata yang menarik untuk dinikmati, “ ucap Sudiani, wartawan Tribun Bali.
.
Kepala Divisi Advisory dan Pengembangan Ekonomi Azka Subhan mengatakan, pariwisata Bali, tidak hanya dikembangkan pada sector tertentu dan daerah lain di Bali Selatan, tetapi harus digali potensi lainnya, seperti kawasan pegunungan, seperti Gunung Agung semaksimal mungkin, “ Kita sudah lihat semangat warga Jogja dengan giatnya membangkit pariwisata pegunungan, danau atau Embung, Kebun Kakao dan UMKM bidang kuliner, atau wisata desa di Desa Pare, Sleman Jogja,yang mengembangkan Salak Pondoh disekitar rumah mereka.
Jogja juga tidak hanya mengandalkan obyek Candi Prambanan, dan Candi Borobudur saja, tetapi sejumlah kawasan di Gunung Kidul, yang dulunya kering gersang, sekarang sudah sangat hijau dengan mengembangan tanaman Kakao, pohon Kruing, Sengon, Kelapa, dan pisang serta durian, dimanfaat untuk wisata edukasi, dan umum, “ Setiap hari kawasan alam di Gunung Kidul dikunjungi ratusan wisatawan,terutama Embung ( penampunga air hujan ( Kolam buatan ) di Desa Nglanggeran untuk mengairi irigasi ke 20 hektar tanaman Klengkeng dan Durian.