Home Budaya Menghidupkan Tari Klasik Buleleng

Menghidupkan Tari Klasik Buleleng

3057

Menghidupkan Tari Klasik Buleleng, Merayakan Keberagaman Seni Bali. Hingga pertengahan abad ke-20, gairah kesenian di Kabupaten Buleleng benar-benar hidup. Seperti juga di kabupaten lain di Bali, seniman-seniman Buleleng yang tersebar di pelosok-pelosok desa memiliki banyak garapan tari dan karawitan yang beragam dan penuh warna. Tapi ketika abad ke-20 berakhir, garapan tari dan karawitan itu seakan terlupakan.

Suburnya kreativitas seni karawitan dan seni tari terjadi sekitar tahun 1930-an. Ini ditandai dengan munculnya sejumlah garapan karawitan dan tari di Desa Jagaraga dan Desa Menyali. Saat itu banyak garapan tari tercipta, baik secara personal maupun komunal. Salah satu yang terkenal adalah Tari Terunajaya.

Pada masa itu memang terdapat sejumlah nama kondang yang tercatat sebagai seniman alam yang luar biasa, seperti Gede Manik, Cening Winten dan Pan Wandres. Kedua seniman itu punya sejumlah seniman asuhan, baik bidang karawitan dan tari. Bersama seniman asuhannya, Gede Manik dan Pan Wandres menciptakan berbagai jenis tarian lengkap dengan garapan karawitannya. Namun garapan itu kini banyak yang terlupakan.

Untungnya, sejumlah tokoh seni di Buleleng belakangan ini punya niat besar untuk menghidupkan kembali garapan-garapan tari dari komunitas seniman di Jagaraga tersebut. Sejumlah tari berhasil dihidupkan kembali, seperti Tari Palawakya, Tari Wirangjaya dan Tari Kebyar Legong atau Pengeleb. Tari Palawakya bahkan kini sudah seperti pelajaran wajib bagi anak-anak yang ingin menjadi penari berkualitas di Buleleng. Belakangan, Tari Pengeleb juga mulai digemari oleh sekaa-sekaa gong di Bali Utara.

Padahal, dua tarian itu sempat terkubur beberapa puluh tahun. Seniman alam yang berjasa menggali tari Pengeleb dari kuburnya adalah Made Kranca dari Desa Jagaraga. Detil tarian yang sudah puluhan tahun tidak dipentaskan itu sesungguhnya berkembang ketika Made Kranca masih anak-anak. Kini ketika Kranca sudah memasuki usia lanjut, ingatanya tentang tarian itu ternyata masih kuat. Bersama sejumlah seniman lain ia kembali menggali tarian itu untuk dipopulerkan kembali.

Tari Pengeleb merupakan jenis tari pelegongan yang benar-benar khas Buleleng. Jika di Bali Selatan pelegongan dikenal sebagai tarian dengan gerakan-gerakan gemulai dan manis, tari Pengeleb menunjukkan gerakan yang lebih dinamis dan atraktif bahkan cenderung agak keras sebagaimana tari-tari lain yang tercipta di Buleleng.

Made Kranca mengatakan dirinya kerap berjuang sendiri dalam menghidupkan kembali tari-tarian yang sudah lama terkubur tersebut. Kalau pun perlu bantuan biasanya datang dari seniman-seniman muda dari Gianyar, Denpasar dan Singaraja. Pasalnya, menghidupkan tarian yang sudah terkubur itu tidak hanya memerlukan niat serius, namun juga dukungan moral dan material dari pemerintah atau lembaga non pemerintah yang punya modal besar.

Tari Palawakya dan Tari Pengeleb kini sudah mendapatkan tempatnya kembali di hati masyarakat Bali. Pada Pesta Kesenian Bali (PKB), Tari Palawakya pernah dijadikan tari wajib bagi setiap sekaa gong di seluruh kabupaten untuk mementaskan tarian itu dalam lomba atau parade gong kebyar. Tari Pengeleb kini juga sudah banyak dipentaskan pada ajang-ajang seni-budaya di sejumlah daerah di Bali. Bahkan sebuah sanggar di wilayah Ubud, Gianyar, yakni Sanggar Cudamani, berkali-kali mementaskan tarian itu pada ajang-ajang bergengsi, baik di Bali maupun di luar negeri.

Tari Cendrawasih

Selain Tari Palawakya dan Tari Pengeleb, di Kabupaten Buleleng juga sempat tercipta Tari Cendrawasih khas Buleleng. Bahkan tari itu tercipta jauh sebelum Swasthi Wijaya Bandem menciptakan Tari Cendrawasih tahun 1987.
Tidak banyak yang tahu tentang keberadaan tari itu jika saja Luh Menek (74) tidak menarikan tarian tersebut setelah puluhan tahun terkubur. Seniman tua yang berasal dari Desa Jagaraga yang kini tinggal di Tejakula itu menarikan tarian klasik tersebut secara tunggal pada pembukaan Konferensi dan Festival Internasional II di Auditorium Undiksha awal tahun lalu. Meski sudah sepuh, Luh Menek yang merupakan murid langsung dari seniman besar Gede Manik itu biasa menarikan tari itu dengan energik. Ia bahkan mendapat aplaus luar biasa dari penonton yang sebagian merupakan wisatawan mancanegara.

Tari Cendrawasih itu memang diciptakan Gede Manik sekitar tahun 1930-an. Seusia dengan Tari Terunajaya yang juga diciptakan Gede Manik. Luh Menek sendiri sebagai murid Gede Manik punya obsesi untuk menghidupkan kembali Tari Cendrawasih yang gerakannya sangat berbeda dengan Tari Cendrawasi yang diciptakan Swasthi Bandem.

Luh Menek mengatakan, dirinya sudah berjuang sejak lama bersama teman-teman seniman di Buleleng untuk menghidupkan Tari Cendrawasih seperti yang sudah dilakukan sebelumnya terhadap Tari Palawakya dan Tari Pengeleb. Menurutnya, Tari Cendrawasih yang diciptakan di Jagaraga itu jauh berbeda dengan Tari Cendrawasih yang dikenal saat ini. Tari Cendrawasih khas Jagaraga itu lebih mengandalkan ekspresi seperti halnya Tari Terunajaya. Sejumlah detil gerak tarinya sudah bisa dia ingat. Bahkan komposisi karawitannya juga sudah bisa ia gumamkan dengan mulut. “Kini tinggal menggarap dengan sungguh-sungguh dan mensosialisasikannya,” katanya. (mao/BI)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here