Manfaatkan Potensi yang Ada Untuk Ruang Publik Kota Denpasar

1537

Baliinspirasi.com — Ruang publik di Kota Denpasar sangat terbatas. kendatipun ada, itupun tidak cukup untuk menampung masyarakat  dan terkesan tidak maksimal. Sedangkan ketentuan Rencana Tata Ruang Wilayah(RTRW) Kota Denpasar minimum harus  ada 30% untuk ruang publik.

Hal tersebut disampaikan I Wayan Suadi Putra, ST Pemerhati Tata Ruang Publik dan juga Pemerhati Denpasar  City Tour saat ditemui disela-sela kesibukannya.

“Kita ketahui bahwa di Denpasar kurang tempat untuk areal ruang publik. Namun, hal tersebut bisa kita akali  dengan memanfaatkan potensi yang ada, dengan menata ulang kembali areal yang akan kita dikehendaki untuk  dijadikan ruang publik.” Kata Suadi .

Adapun tempat yang bisa untuk dijadikan ruang publik, yakni; Di wilayah Denpasar Selatan, seperti di Lapangan  Arga Coka Sesetan, Lapangan Karya Manunggal Sidakarya dan Lapangan Made Pica di Sanur. Denpasar Timur, di  Lapangan Kapten Japa. Untuk wilayah Denpasar Utara dengan memanfaatkan Lapangan Lumintang. Sedangkan Denpasar  Barat, yaitu Lapangan Kompyang Sujana.

“Kita tata terlebih dulu dengan memperbaiki joging track, tata cahaya serta faktor pendukung lainnya. Dan juga  ditambah dengan areal rekreasi untuk keluarga. Jadi, Selain sebagai tempat untuk olahraga, lapangan ini juga  bisa kita manfaatkan untuk areal rekreasi keluarga.” Terang Suadi yang juga inisiator Pasar Murah dan Bakti  Kesehatan Desa Sidakarya.

Khusus untuk Lapangan Kompyang Sujana, ditata kembali dengan menambahkan berbagai fasilitas serta penambahan  tribun dan dijadikan sport center atau Icon Olahraga Kota Denpasar sehingga Denpasar tidak meminjam tempat lagi  di Gor Lila Bhuana  atau Gor Ngurah Rai yang sujatinya milik Pemprov. Bali.

“Saya sudah usulkan, Kantor Camat Denpasar Barat yang ada di dekat lapangan, agar di pindah ke tempat lain dan  tempat tersebut kita pakai untuk kantor KONI Denpasar sehingga menjadi satu areal.” Ujar Suadi.

Suadi menambahkan Ruang publik ini, bukan hanya sebagai tempat olahraga atau rekereasi keluarga saja. Tempat  ini juga berfungsi sebagai zona aman berkumpulnya warga jika terjadi bencana.

“Kalaupun itu tidak bisa terwujud karena masalah keterbatasan dana, kenapa tidak kita ususlkan saja ke Pusat  agar diberikan bantuan.”

Jika konsep ruang publik semua itu bisa terlaksana dan terwujud, pengelolannya disarankan agar dikelola  langsung oleh masyarakt melalui Pemerintahan Desa sehingga Pemkot tidak keluar biaya lagi untuk pemeliharaan  maupun perbaikan.

“Ini terwujud dan pengelolaan dilaksanakan oleh Desa, maka secara tidak langsung juga ikut memberdayakan  masyarakat dan Pemerintah Desa mendapatkan pemasukan.” (alt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here