Klenteng Tertua di Jakarta Hisap Ratusan Umat dan Warga Saat Imlek 2567

775

20160208_120902 20160208_112040JAKARTA – Perayaan Tahun Baru Imlek ke-2567 di Wihara Dharma Bhakti, Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat berlangsung khitmat dan ramai. Meskipun wihara tertua di jakarta tersebut sedang dalam renovasi karena kebakaran, namun tidak menyurutkan para jemaat yang datang untuk melakukan sembahyang dan ritual dalam menyambut Tahun Baru Imlek.

“Sejak Minggu (07/02/2016) sudah banyak jemaat yang berdatangan untuk sembahyang. Dari malam hari umat yang sembahyang dan melakukan ritual di sini sampai berdesak-desakan,” kata Yu Ie selaku pengurus Wihara Dharma Bhati, Senin (08/02/2016).

Berbagai ritual yang dilakukan para umat Tinghoa di wihara ini di antaranya persembahan dengan membawa kue, menyalakan lilin, membakar dupa, berdoa, menuang minyak, membakar kertas uang, dan mengambil air suci.

“Semua jemaat yang datang hanya fokus untuk berdoa dan sembahyang. Berbagai ritual yang dilakukan, seperti menyalakan lilin, membakar dupa, dan membakar kertas tersebut dipersembahkan untuk dewa-dewi,” terang Yu Ie.

Saat ditanya soal makna Imlek tahun monyet api ini, Yu Ie berharap agar semua umat dan warga diberi kesehatan, ibadahnya lancar dan dijauhkan dari tindak kriminal. “Semoga pada Tahun ini kita semua diberi kesehatan dan kenyamanan,” ujarnya.

imlek-2015Menurut Away, mantan pengurus Wihara Dharma Sakti yang masih satu komplek dengan Wihara Dharma Bhakti, di wihara ini tidak ada pertunjukkan seni seperti Barongsai dan Liongsai. “Kami tidak mengadakan acara kesenian. Di sini para umat hanya berdoa dan sembahyang. Untuk pertunjukkan Barongsai nanti saat Cap Go Meh, tapi tidak di wihara ini,” paparnya.

Ia berharap agar Imlek tahun ini dapat menjadikan umat sebagai makhluk yang taat beribadah dan diberi rejeki. “Semoga kita semua ibadahnya lancar, dan rejekinya juga lancar,” ucapnya.

Selain itu, wihara ini juga dipadati oleh ratusan pengemis yang sejak Minggu sudah memadati wihara. Mulai dari orang tua hingga anak-anak, mereka mengantri untuk mendapatkan angpau. Ada yang sampai bermalam di halaman wihara.

“Dua tahun yang lalu pengemis yang datang ke sini lebih banyak, ya sekitar ratusan. Pokoknya lebih ramai. Sekarang juga terbilang ramai. Kedatangan mereka (pengemis) ke sini untuk mengharapkan angpau atau rejeki dari para jemaat yang datang,” terang Away.

Kemeriahan Tahun Baru Imlek yang diwarnai dengan puluhan lampion dan lilin-lilin di sekitar wihara bukan saja menarik para umat yang merayakan, namun juga menarik perhatian masyarakat. Masyarakat yang datang ke wihara ini ingin merasakan euforia etnis Tionghoa