Ketut Ardana Kembali Pimpin ASITA Bali

517
Presiden Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Asnawi Bahar, menyerahkan Bendera Kepimpinan ASITA Bali Kepada Ketut Ardana priode 2016 – 2020.

Pemerintah Diminta Tegas Tegak kan Aturan Bebas Visa, Travel Bodong dan Guide Liar

Kepengurusan Association of The Indonesian Tours an d Travel Agencies ( ASITA ) Bali Priode 2016 -2020, di Ketuai Ketut Ardana, Kamis lalu dikukuhkan oleh Ketua DPP ASITA Pusat Asnawi Bahar, “ Kepengurusan empat tahun kedepan memiliki tanggungjawab berat, selain target kedatangan wisatawan 21 juta orang, juga kurangnya jumlah guide berbahasa mandarin,jumlah travel pun masih kurang, “ tandas Asnawi Bahar.

Sebagai  destinasi utama Indonesia,Bali sangat diharapkan terus memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan destinasi daerah lain, seperti yang sudah ditetapkan pemerintah adanya 10 destinasi menjad prioritas untuk dikembangkan, “ Peran ASITA Bali mengevaluasi semakin menurunnya  kualitas lama tinggal (long of stay) khususnya turis lokal  di Bali yang mengalami penurunan dari 3,9 hari jadi 3,1 hari, “ ungkap  Presiden Association of Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Asnawi Bahar.

Dijelaskan,  tahun 2016 jumlah tamu yang berkunjung ke Bali mencapai 4,8 juta jiwa. Namun lama tinggal di Bali terus menurun dimana sebelumnya 3,9 hari menjadi 3,1 hari, “ Pengurus Asita harus  mengevaluasi kenapa hal ini harus terjadi, “  ungkap Bahar  usai melantik pengurus ASITA di Sanur. Ia menyebutkan dulu wisatawan  di Bali hanya 1 juta orang, saat 5 juta orang pertahun.Hotel pun  jumlahn sudah melampaui  demand, namun  harusnya supply  dijaga dan ditambah. Untuk itu  regulasi harus bermain,termasuk pemerintah pusat juga meninnjau kembali bebas Visa bagi ratusan negara.

Menurutnya, bebas visa bukannya menambah jumlah kunjungan tetapi malah membawa banyak masalah, seperti  penurunan kualitas wisatawan ke Indonesia. Karena Pengawasan terhadap kebijakan yang lemah, “ Domainnya pengawasan ada di Imigrasi yang  siap mendukung program ini. Jika pengawasan  tdak maksimal, maka bebas visa akan menjadi persoalan serius,” imbuh Asnawi, menambahkan evaluasi terhadap bebas Visa merupakan perjuangan ASITA yang tidak direspon dengan baik oleh pemerintah, khusus biro perjalanan luar negeri yang tidak mau bekerja sama dsengan Travel dalam negeri.

Seharusnya, kata Asnawi Bahar,  biro perjalanan dari luar negeri itu apabila datang ke indonesia harus join operasi dengan biro perjalanan lokal, “ Karena kami juga  membawa tamu keluar negeri, maka kami harus  menggunakan guide lokal setempat, kita tidak  leluasa membawa tamu di negara orang,  bisa bisa ditangkap. Tapi justru negara kita mereka  tidak ditangkap,” ungkap Asnawi.

Bagi pemerintah daerah Bali,  Asnawi Bahar berharap bisa Stop ijin  pendirian hotel di Bali, tetapi  ditambah biro perjalanannya,agar biro perjalanan ilegal tidak masuk,” Seraya menciptakan guide yang lebih banyak untuk meningkatkan  pelayanan dengan SDM Guide lebih berkualitas, “ tegasnya. ( Nani )