Home Wisata Keraton Yogyakarta, Kenalkan Budaya dan Sejarah Kota Pelajar

Keraton Yogyakarta, Kenalkan Budaya dan Sejarah Kota Pelajar

1927

Yogyakarta –Daerah Istimewa Yogyakarta memang menyimpan banyak cerita budaya dan adat istiadat. Perjalanan Kota Pelajar ini terangkum dalam Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, di mana Keraton untuk pertama kali dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada Tahun 1756. Namun hingga kini Keraton Kasultanan Yogyakarta masih eksis sebagai daya tarik pariwisata.
Keraton berasal dari kata ka-ratu-an yang memiliki arti tempat tinggal ratu atau raja. Selain sebagai tempat tinggal raja dan keluarganya, Keraton juga difungsikan sebagai pusat pemerintahan, pusat kebudayaan dan pengembangannya. Seiring berkembangnya jaman, Keraton mulai dibuka untuk umum, seperti kegiatan pariwisata, kebutuhan masyarakat akan ilmu pengetahuan, dan kegiatan lainnya yang bersangkutan dengan kebutuhan masyarakat.

Selama pemerintahan Indonesia berlokasi di Yogyakarta, Keraton juga menjadi museum perjuangan bangsa, karena Keraton pernah digunakan sebagai tempat kegiatan perjuangan fisik maupun kegiatan pemerintahan.

Sejak Tahun 1755 sampai Tahun 2015, Keraton sudah menggelar pergantian raja sebanyak sepuluh kali. Pada Tahun 1989, Sri Sultan Hamengkubuwono X naik tahta menggantikan ayahnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX hingga kini. Sri Sultan Hamengkubuwono X yang memiliki nama kecil Bendara Raden Mas Herjuno Darpito ini juga merangkap menjadi Gubernur Yogyakarta yang dilantik pada 3 Oktober 1998.

Keraton juga memiliki lambang-lambang berupa benda yang mempunyai arti tersendiri dan sering digunakan saat upacara-uacara adat yang disebut Ampilan Dalem. Benda-benda yang terbuat dari emas murni bertahtakan berlian tersebut biasanya dibawa oleh delapan orang abdidalem perempuan yang disebut Manggung. Empat orang abdidalem Keparak yang bertugas membawa disebut, Sabet, Sumbul, Larbadak, dan Cenelo. Benda-benda tersebut di antaranya:

  1. Sawung atau Ayam Jantan adalah simbol keberanian,
  2. Galing atau Merak merupakan simbol kewibawaan,
  3. Kandhil atau Lentera sebagai simbol penerangan di hati rakyat,
  4. Kacu Mas atau Saputangan Emas sebagai simbol penghapus segala kotoran, baik jasmaniah, rohaniah di dalam pemerintahan maupun ketatanegaraan dan sebagainya,
  5. Dhalang atau Kijang adalah simbol kegesitan dan kebijaksanaan,
  6. Banyak atau Angsa merupakan simbol kesucian dan kewaspadaan,
  7. Hardawalika atau Naga yang dalam mitologi Jawa memiliki arti penyangga atau pembawa dunia, yang dimaksudkan di mana seorang raja adalah pembawa atau penyangga segala tanggung jawab, dan
  8. Kutuk atau Kotak adalah simbol dari daya pemikat atau penarik.

Lingkungan Keraton terdiri dari bagian depan, yaitu halaman Pagelaran hingga ke bagian belakang, yakni halaman Sitihinggil Kidul. Secara keseluruhan lingkungan Keraton terbagi menjadi tujuh halaman. Keraton juga menyimpan gamelan yang biasa digunakan untuk upacara adat atau kegiatan rutin, seperti Sekaten. Gamelan-gamelan tersebut disimpan di ruang khusus dan di keluarkan untuk keperluan Keraton.

Puji, salah satu tour guide Keraton menceritakan bahwa di Keraton terdapat museum yang isinya terdapat barang-barang dan kisah dari Sri Sultan Hamengkubuwono I sampai Sri Sultan Hamengkubuwono IX. “Untuk Sultan pertama sampai ketiga memang tidak ada foto karena pada jamnnya belum ada alat buat foto seperti sekarang ini. Ini merupakan ruangan dari Sultan ke-9, ada pakaian kuda di mana dia memiliki hobi berkuda, dan ada seragam saat dia menjabat di pemerintahan dan menjadi wakil presiden era Soeharto,” jelas Puji. Ia juga menunjukkan salah satu wadah kecil yang dipajang di ruangan Sultan ke-9 itu. “Ini namanya pangojokan, tempat membuang air liur Sang Sabda Paditama, yang artinya apa yang diucapkan Sultan tidak bisa dipotong lagi,” tambahnya.

Ia juga menambahkan cerita tentang kedatangan mendiang Lady Diana bersama Pangeran Charles ke Keraton pada Tahun 1989 saat dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X. “Karena Putri Diana dan Pangeran Charles datang saat dipimpin Sultan ke-10 maka belum ada fotonya, karena Sultan ke-10 masih ada. Museum hanya dibangun ketika Sultan sudah meninggal dunia,” ujarnya.
Keraton yang memiliki 3000 orang abdidalem ini mempunyai jadwal kegiatan, seperti penampilan musik gamelan, wayang kulit, dan tarian serimpi. “Karena ini menjadi tempat wisata dan banyak turis lokal maupun turis asing yang berkunjung jadi dibuatlah jadwal setiap Senin dan Selasa itu musik gamelan, Rabu wayang golek, Kamis musik gamelan dan tarian srimpi, Jumat tembang jawa dan mocopat, Sabtu wayang kulit, dan Minggu wayang orang,” papar Puji.

Lita, salah satu pengunjung asal Bandung mengaku sengaja datang ke Keraton untuk mempelajari sejarah tentang Kota yang terkenal dengan gudeg sebagai kulinernya itu. “Lagi liburan kuliah, sama teman-teman main ke Jogja, terus ke sini (Keraton) ya mautahu saja soal kerajaan di Keraton. Info yang didapat dari guide di sini juga cukup jelas. Banyak nambah pengetahuan juga,” katanya.

Untuk masuk ke dalam Keraton, pengunjung hanya membayar tiket masuk Rp 5.000,- untuk turis lokal dan Rp 12.500,- untuk turis mancanegara. Bagi yang membawa kamera akan dikenakan biaya Rp1.000,-.

Antara Keraton dan Stasiun Tugu Yogyakarta terdapat jalan utama yang dikenal dengan Malioboro, pusat perbelanjaan ini juga menjadi salah satu ikon Kota Yogyakarta dan selalu ramai dikunjungi wisatawan.Nisa/BI

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here