Kejar Target 15 Juta Wisman 2017

330

PT Angkasa Pura I & Kementerian Pariwisata Koordinasi Konektivitas Udara
Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya didampingi Staf Khusus Menpar Bidang Connectivity Judi Rifajantoro dan Tenaga Ahli Menpar Robert Waloni kunjungan kerja ke PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, sebagai lanjutan Roadshow Air Connectivity digagas Kemenpar. untuk airlines, air navigation, dan airports guna mengejar target 15 juta wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2017.
Rombongan Menpar, diterima Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Danang S. Baskoro dan Direktur Operasi Wendo Asrul Rose, di Novotel Bali Airport, Mangupura,Badung Bali, “Kementerian Pariwisata telah menetapkan tiga prioritas utama di tahun 2017 yaitu go digital, homestay desa wisata, dan konektivitas udara, “ jelas Menpar Arief Yahya, menegaskan konektivitas udara merupakan tiga critical success membuat lebih banyak wisman masuk ke Indonesia.
Pertama kata Arief Yahya,hampir 80% wisman masuk ke Indonesia melalui transportasi udara. Sisanya melalui laut ke Kepulauan Riau, dan cross-border land. Sehingga aksesibilitas udara menjadi Key Success Factor (KSF) bagi pencapaian target kunjungan wisman.
“Kedua, akses udara ini 80% dari proyeksi 15 juta kunjungan tahun ini, sehingga kita masih kekurangan sekitar 2 juta seats capacity dari negara yang merupakan pasar utama wisman, seperti Tiongkok, Singapura, Malaysia, India, Eropa, Australia, Jepang, Korea, dan Ketiga, trafik sebagian besar bandara Internasional di Indonesia over capacity, seperti DPS (Bali) dan CGK (Jakarta) yang merupakan pintu gerbang utama bagi wisman, juga beberapa bandara lainnya yang banyak diminati wisman, seperti SUB (Surabaya), JOG (Jogja) dan BDO (Bandung), “ papar Menpar.
Ia berharap, agar Angkasa Pura I dapat membantu mencapai target 15 juta wisman di tahun 2017. Karena masih terdapat shortage seat capacity sebesar 2 juta seat. Untuk itu diperlukan percepatan pengembangan infrastruktur bandara, “ Sebagai pengelola airport, Angkasa Pura I masih memperoleh hak monopoli. Untuk itu yang menjadi pesaing adalah diri sendiri yaitu bagaimana memacu kinerja perusahaan menjadi lebih baik,” tandasnya.
Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Danang S. Baskoro mengatakan, Angkasa Pura I berkomitmen mendukung dan mengembangkan pariwisata dengan berbagai event skala nasional dan internasional. Melalui kegiatan Collaborative Destination Development (CDD) digagas Angkasa Pura I menghimpun stakeholders pariwisata dan komunitas daerah yang diharapkan dapat meningkatkan potensi bisnis pariwisata mendukung pembangunan & pertumbuhan ekonomi di daerah tempat Angkasa Pura I berada.
Sampai saat ini kegiatan CDD telah diselenggarakan di 9 Bandara Angkasa Pura I yaitu, Manado, Solo, Kupang, Ambon, Semarang, Banjarmasin, Jogjakarta dan Makassar yang pada penyelenggaraannya turut pula dihadiri oleh stakeholder Airlines, ASITA, PHRI, Dinas Pariwisara, Gubernur, Walikota dan Pelaku Bisnis Pariwisata.
Angkasa Pura I juga menggelar events untuk mendorong pariwisata dan pergerakan wisatawan dalam negeri dan mancanegara melalui event Airport Running Series Solo, Airport Running Series Koepang, Airport Running Manado dan Airport Running Lombok. Juga Jazz Gunung Bromo 19-20 Agustus 2016, dan Summer Jazz Ijen Banyuwangi pada 30 Juli, 10 September, 22 Oktober 2016 lalu..
Angkasa Pura I juga berupaya mengakomodir arahan Menpar Arief Yahya terkait pengembangan bandara seperti integrasi perencanaan yang matang antara jangka pendek, menengah dan jangka panjang.Terkait pembuatan rapid exit taxiway Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, akan dipertimbangkan untuk dimasukkan ke dalam rencana jangka pendek dan pembuatan second runway ke dalam rencana jangka panjang.
Pengembangan infrastruktur terus dijalankan dibeberapa bandara di bawah pengelolaan Angkasa Pura I seperi Bandara Ahmad Yani Semarang, Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, Bandara Internasional Yogyakarta, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, dan Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali ditargetkan dapat selesai di tahun 2018 dan 2019.
Selain itu Angkasa Pura I juga telah merangsang pihak maskapai untuk terus mengembangkan jalur penerbangannya dari dan ke bandara-bandara di bawah pengelolaan Angkasa Pura I dengan cara memberikan insentif keringanan biaya pendaratan (landing fee) hingga 100% selama 6 bulan bagi penerbangan rute baru bandara Frans Kaisiepo Biak, bandara Pattimura Ambon dan bandara El Tari Kupang.
Insentif yang diberikan Angkasa Pura I ini berlaku selama 6 bulan, efektif per Oktober 2016. Landing fee sebesar 50% selama 6 bulan juga diberikan kepada airlines yang membuka rute baru untuk Denpasar, Surabaya, Balikpapan, Makassar, Jogjakarta, Manado, Lombok, Solo dan Banjarmasin.
“ Hal ini merupakan komitmen Angkasa Pura I dalam memberikan pelayanan kepada airlines sebagai mitra usaha sekaligus juga untuk terus meningkatkan jumlah penumpang jasa angkutan udara di tanah air,” jelas Danang S. Baskoro.
“Melalui koordinasi konektivitas udara ini diharapkan semakin meningkatkan sinergi antara Kementerian Pariwisata sebagai regulator dan Angkasa Pura I sebagai operator Bandara terkait pengembangan kepariwisataan,khususnya konektivitas udara,” kata Danang S. Baskoro. ( Nani )