Jelang Ramadhan, Masyarakat Gelar Nyadran di Makam Sewu

1321

YOGYAKARTA – Dalam menyambut bulan suci Ramadhan, masyarakat Bantul, Yogyakarta menggelar tradisi Nyadran di Makam Sewu, Desa Wijirejo, Pandak, Bantul, Yogyakarta, Senin 8 Juni 2015. Tradisi Nyadran tersebut dihadiri oleh Kepala Camat Pandak, Agus Sulistiyono, Staf Ahli Bupati Bantul, Subayanta Hadi, dan diramaikan oleh masyarakat sekitar maupun masyarakat luar dari luar Desa Wijirejo. Nyadran sendiri berasal dari kata Yadaronan di mana masyarakat pada bulan ruwah disunahkan untuk ziarah kubur dengan membaca Assalamualaikum Ya Daro Qoumin mu’minin.

Digelarnya Nyadran guna mengirim doa kepada para leluhur, khususnya nyekar ke makam Panembahan Bodho. Berbagai kegiatan dilakukan saat acara nyadran, seperti kirab jodhang yang diawali dari balai Desa Wijirejo ke makam sewu. Kirab jodhang tersebut merupakan lima jodhang dan gunungan apem yang dibawa oleh masyarakat secara iring-iringan. Sesampainya di makam sewu, jodhang dan gunungan apem diletakkan di pendopo makam dekat masjid untuk didoakan. Setelah didoakan, gunungan apem akan dibawa keluar pendopo dan diperebutkan oleh warga.

Agus Sulistiyono selaku Camat Pandak berharap agar Nyadran Tahun ini merupakan bentuk bakti seseorang kepada kedua orangtuanya, sehingga norma-norma yang baik seperti norma agama akan selalu berkembang di masyarakat. “Ini merupakan tradisi adat budaya masyarakat yang mana Nyadran itu sebagai kulitnya, yang isinya adalah tuntunan-tuntunan islam yang menganjurkan untuk mendoakan para arwah-arwah leluhur dan masyarakat di sini,” ujar Agus saat ditemui di pelataran Makam Sewu, Desa Wijirejo, Pandak, Bantul, Yogyakarta, Senin (08/06).

Selain itu, Agus juga berharap agar tradisi Nyadran ini dapat menjadi salah satu destinasi wisata dan potensi untuk budaya religi. “Kemudian saya juga berharap ini ke depannya bisa dijual, sehingga nanti kalau tradisi Nyadran ini sudah diketahui khalayak masyarakat di manapun dapat membudaya dan menjadi destinasi wisata budaya dari daerah Bantul,” harapnya.

Acara Nyadran ini bukan hanya dihadiri oleh umat muslim saja, masyarakat dari lintas agama pun turut memeriahkan acara yang rutin diadakan setiap Senin pada tanggal 20 Ruwah ini.

Subiyanta Hadi selaku Staf ahli Bupati Bantul mewakili Bupati Bantul menyampaikan bahwa Nyadran merupakan perpaduan antara nilai-nilai islam dan kebudayaan serta kepercayaan masyarakat.

“Nyadran ini merupakan kegiatan di mana masyarakat membersihkan hati menjelang puasa atau Ramdhan. Nyadran juga sebagai wujud komitmen untuk merawat nilai-nilai budaya. Dengan adanya nilai-nilai islam yang berpadu dengan kepercayaan masyarakat diharapkan agar jangan sampai orang jawa hilang akan jawanya,” katanya.

Masyarakat Bantul sangat antusias menyambut acara Nyadran tersebut. Beberapa di antaranya datang untuk ikut merebutkan gunungan apem, karena menurut masyarakat sekitar gunungan apem tersebut dapat memberikan keberkahan, beberapa lainnya sengaja datang hanya untuk melihat keramaian di Makam Sewu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here