Home Berita IHGMA Bali Chapter Dukung Upaya Pengurangan Sampah Plastik di Bali.

IHGMA Bali Chapter Dukung Upaya Pengurangan Sampah Plastik di Bali.

9

Perhelatan akbar Suksma Bali 2018 telah usai digelar. Serangkaian acara yang dimulai sejak 15 September lalu hingga puncaknya pada 15 Desember baru-baru ini dipandang sebagai gerakan revolusi mental secara nyata yang didukung oleh berbagai stakeholder kepariwisataan di Bali. IHGMA Bali Chapter sebagai asosiasi profesi resmi para pimpinan hotel, resort dan villa di Bali turut serta berperran aktif dalam kegiatan ini baik sebagai panitia inti maupun menggerakkan anggotanya untuk keseluruhan rangkaian acara Suksma Bali 2018.

           Panitia Suksma Bali dari unsur IHGMA

Dihubungi seusai acara, Ketua Umum IHGMA Bali, I Nyoman Astama,SE.,CHA menyampaikan bersyukurnya atas kesuksesan acara Suksma Bali yang pertama kali diselenggarakan tahun ini. Dalam sambungan telepon Beliau yang juga GM Fashion Hotel Legian ini menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi industri pariwisata di Bali yang mengedepankan pelestarian alam, budaya dan seni. “Suksma Bali ini merupakan ungkapan kejiwaan yang mendalam terhadap anugerah yang telah kita dapatkan dan ambil dari Pulau Bali ini, jadi kita patut berterimakasih dan memberi penghargaan tulus untuk menghormati Ibu Pertiwi. Dalam konteks kebangsaan dan pola hidup bermasyarakat saya yakin kegiatan ini mampu meningkatkan kesadaran kita bersama akan pentingnya memperhatikan aspek-aspek perlindungan dan pelestarian alam sekitar dengan membangun kesadaran setiap pribadi” demikian ditambahkannya.

I Nyoman Astama, SE, CHA – Ketua IHGMA Bali Chapter (kanan)

Sebagai bagian dari pembangunan nasional dan daerah, industri pariwisata secara nasional telah ditetapkan sebagai sektor industri yang diunggulkan oleh pemerintah pusat. Diharapkan industri pariwisata dapat menjadi lokomotif pergerakan ekonomi seluruh industri lainnya seperti perbankan, pendidikan, perdagangan, pertanian, pertambangan, termasuk kesehatan dan yang lainnya. Pengurus IHGMA lainnya yakni I Made Ramia Adnyana, SE.,MM.,CHA yang juga Wakil Ketua Umum DPP IHGMA menekankan pentingnya memperhatikan kualitas pariwisata kedepannya. Ramia menjelaskan bahwa saat ini pemerintah pusat sedang dalam penentuan hasil kerja terkait pencapain target kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 20 juta pada akhir 2019. Bali sebagai “center of excellnce” bagi industri pariwisata (sebagaimana disebutkan oleh Prof. I Gde Pitana selaku Tenaga Ahli pada Kementerian Pariwisata RI saat menyampaikan pidatonya pada Suksma Bali Night 2018) mendapatkan bagian beban yang tinggi dengan target 40% dari keseluruhan target nasional atau sekitar 8 juta kunjungan wisman pada 2019. Calon Legislatif DPRD Prov Bali dari daerah pemilihan Karangasem ini juga menambahkan bahwa , “Ini angka yang fantastis sekali, dimana target harus dipenuhi sementara dukungan pemerintah pusat untuk perbaikan dan peningkatan kualitas pariwisata di Bali tidak simultan dengan apa yang dibutuhkan Bali pada saat ini dan kedepannya. Kami para ahli kepariwisataan dan perhotelan di Bali memiliki Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) yang sifatnya urgent sekali untuk diselesaikan jika ingin mewujudkan Pariwisata Bali yang berkualitas dan berkelanjutan”.

Ramia Adnyana (kiri) – Ketut Swabawa (kanan)

Sebagai outcome dari Suksma Bali pada program 2018 ini adalah upaya pengurangan penggunaan barang dan peralatan berbahan plastik sekali pakai, sehingga nantinya dapat mengurangi sampah plastik di Bali. Menurut informasi dari penggiat lingkungan dan para ahli di bidang ini dari berbagai sumber media disebutkan bahwa bahan plastik merupakan material yang paling sulit dan paling lama untuk bisa dihancurkan dan agar tidak merusak unsur hara dalam tanah. Plastik yang hanya dipakai beberapa saat ini bahkan dalam hitungan menit akan memakan waktu ratusan ribu tahun untuk terdegradasi oleh alam sehingga dalam proses tersebut plastik ini merusak ekosistem dan alam bumi ini. K. Swabawa, CHA selaku Wakil Ketua IHGMA Bali dan sekaligus Chairman of Symposium rangkaian Suksma Bali 2018 menjelaskan bahwa industri pariwisata di Bali khususnya perlu berbenah diri dalam berbagai segmen dan dimensi. Promosi sudah dilaksanakan bahkan semakin gencar dalam berbagai media dan event. Juga pembangunan fasilitas kepariwisataan sudah cukup banyak dan bahkan di beberapa wilayah destinasi sudah melebihi kapasitas dan menyebabkan kesemrawutan serta degradasi kualitas. Harus ada yang memikirkan terkait upaya-upaya pendukung agar pariwisata ini semakin berkualitas di tengah gemerlap kemajuannya. Swabawa juga memaparkan bahwa keberlangsungan industri kepariwisataan tidak terlepas juga dari sikap perilaku masyarakat di suatu destinasi. Turis datang ke Bali untuk menikmati keindahan alam, keunikan dan ragam budaya yang dimiliki serta keramah tamahan masyarakat di Bali. “Bali ini unik, tidak bisa dibandingkan apple to apple dengan destinasi lainnya di Indonesia. Bahkan saya tidak setuju ada yang menyebut istilah 10 destinasi Bali baru, gak mungkin itu! Jika 10 destinasi unggulan, ya silahkan.. mungkin itu lebih tepat ya. Karena taksu Bali ini adalah ada pada spirit, ritual dan jiwa bukan pada presentasi produk semata. Untuk itulah kami sangat mendukung upaya revolusi mental dalam Suksma Bali ini, masyarakat harus sadar dan bangkitkan taksu Bali bersama-sama. Menuju pariwisata Bali yang berkualitas salah satunya adalah dengan menjaga kelestarian alam Bali. Jangan sampai rusak oleh sampah-sampah plastik yang berbahaya dan menjadi ancaman bagi Bali 10 tahun mendatang.”, tambah Swabawa yang juga bertindak sebagai Moderator pada symposium Suksma Bali bertajuk “Bali Hosts Meet Supporters” yang diselenggarakan pada 12 Desember 2018 lalu.

Yoga Iswara (kedua dari kanan) – Darma Suyasa (paling kanan)

Seperti yang diberitakan sebelumnya bahwa IHGMA Bali Chapter turut menandatangani deklarasi hasil Symposium Suksma Bali yang disebut “Sapta Kriyamaha” yakni tujuh langkah dan komitmen bersama 19 stakeholder kepariwisataan di Bali untuk mengurangi penggunaan barang dan peralatan berbahan dasar plastik sekali pakai. Hal ini disambut baik oleh Nyoman Astama dengan mengeluarkan himbauan kepada seluruh anggota IHGMA Bali agar memulai secara bertahap untuk mengganti mineral water kemasan botol plastik dengan botol kaca, straw plastik, papan bunga ucapan dari styrofoam, tas kresek kantong, serta pembungkus makanan dari styrofoam. Dari pengurus IHGMA Bali yang terlibat dalam kepanitiaan Suksma Bali yakni Agus Yoga Iswara, BBA.,BBM.,MM.,CHA (Bidang Organisasi) selaku ketua panitia dan IGN Darma Suyasa, CHA (Bidang Sosial dan CSR) selaku ketua World Clean Up Day dalam Suksma Bali 2018 menunjukkan antusias yang tinggi bahwa seiring dukungan yang semakin konsisten dari seluruh asosiasi termasuk IHGMA Bali maka tujuan kegiatan mulia ini akan berjalan secara konsisten pula dalam mencapai tujuan yang diharapkan bersama.

Semoga Pariwisata Bali semakin maju dengan kualitas yang berkesinambungan seiring dengan popularitasnya yang diakui secara internasional sebagai salah satu destinasi terbaik di dunia. Dengan berkomitmen untuk berpartisipasi aktif dalam mengurangi jumlah sampah plastik maka pelestarian alam akan terwujud secara bertahap dan semoga Ibu Pertiwi ‘tersenyum’ .