Enam Desa Jadi Prioritas Dongkrak Kunjungan Wisatawan Badung Optimalkan Potensi Desa Wisata

3

Dibawah Kepemimpinan Bupati Nyoman Giri Prasta dan Wakil Bupati Badung, Drs. Ketut Suiasa, SH Denpasar Badung berupaya mengoptimalkan pengembangan Desa Wisata (DW ) .Selain mempertahankan dan meningkatkan yang sudah ada, juga meningkatkan kunjungan DS untuk menyimbangkan Badung utara dan Selatan.
Kepada sejumlah media Nasional dan lokal, dalam acara jumpa wartawan , Kabag. Humas Pemkab. Badung,Putu Ngurah Thomas Yuniartha didampingi Kepala Bidang Industri Pariwisata Ngakan Putu Tri Iriawan dan Kepala Bidang Daya Tarik Wisata ( DTW) Ida Ayu Anggreni Puja, ia mengatakan, ada 11 Desa Wisata ( DW) yang sudah ada di Kab. Badung dan 6 baru disiapkan untuk di fasilitasi baik infrastruktur dan Sumber Daya Manusia ( SDM ).
Bahkan untuk mewujudkan optimalisasi potensi desa menjadi destinasi wisata, Pemkab. Badung, bersama Stocholder Disparda Badung, dan pengurus desa melakukan kunjungan ke Jogjakarta, untuk melihat lebih jauh pemberdayaan desa, dan masyarakat serta potensi yang telah dikembang Jogja menjadikan desa sebagai tunjuan wisata alam,budaya, agro bahkan perbukitan, gunung Purba dengan brbagai atraksinya.
Promosi pun dilakukan bersama PHRI dan ASITA ke beberapa Negara seperti Australia, Eropa, Amerika, dan China, dengan tujuan kunjungan wisman terus meningkat datan g ke Bali umumnya dan ke Kab. Badung, sebagai daerah yang selama ini paling banyak dikunjungi wisman.
Enam desa tersebut, adalah, Desa Bongkasa Pertiwi, Pangsang, Sangeh, Carangsari, Mengwi ( Taman Ayun ), dan Petang.baru telah diajukan untuk mendapatkan SK Perbud. No. 47 Tahun 2010 lalu. Bupati Badung pun berkomitmen untuk terus memfasilitasi apa saja yang dibutuhkan dan dikembangkan, “ Karena sebagai daerah andalan Bali untuk mendatangkan wisatawan dalam luar negeri, promosi dan pembenahan dan peningkatan kenyamanan DTW, terus dilakun, “ jelas Ngakan, seraya menjelaskan, untuk mendapatkan SK harus mengajukan profosal dari Desa setempat kemudian di proses tim independen dari Universitas Udayana, untuk mendapatkan hasil obyektif.
Ke enam Desa tersebut adalah , Desa Bongkasa Pertiwi, yang memiliki potensi rafting, dan pohon beringin Kembar, dan sejumlah situs peninggalan sejarah Purbakala, dan memiliki kekhasan tertentu yang unik,merupakan bagian dari syarat yang harus dipenuhi sebuah desa wisata,“Dari Potensi Desa Bongkasa Pertiwi ini, bisa dikembangkan dan dijual sebagai destinasi wisata, “ imbuh Ngakan.
Ia mengatakan, mayoritas wisatawan, merupakan wisawan repeater ( dating berulang kali ), makanya untuk menjaga agar mereka tidak bosan melihat budaya, alam dan atraksi diperlukan diversifikasi destinasi, “ Tanpa disversifikasi, wisatawan akan bosan, apalagi kecendrungan adanya pengelola mengikuti apa yang jadi trend paling disukai wisatawan, kita akan terus gali potens sebuah desa, misanya seni budaya yang terpendam, atau atraksi terbaru, dan objek alam lainnya, “ jelas Ngakan.
Desa wisata lainnya, yang bisa dikembang seperti Alam Tirta Outbond di Desa Carangsari, yang sudah mempersiap dan dibuka untuk umum, memiliki Rafting, Flayingfox, Bumi Perkemahan, Sawah yang luas, serta Trecking, dan fasilitas lainnya, seperti Desa Petang, dengan agro wisatanya, kopi, cengkeh, buah buahan dan sayuran, manga dan manggis.
Ngakan Putu Tri Iriawan, tidak menampik adanya desa wisata yang latah, menyiapkan destinasi yang sudah ada,yang bila dibiarkan persaingan menjadi tidak sehat dan saling menjatuhkan antar desa,” Bukan menambah desa wisata justru terjadi perang tariff, ini tidak boleh terjadi, kita akan terus pantau dan bina bila hal ini menimbulkan masalah, “ tegasnya.
Penetapan Desa Wisata ( DW ), yang bakal dipersiapkan juga beberapa DW untuk menerima kunjungan Delegasi IMF – World Bank Oktober menadatang, adalah desa yang memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri, dan antar desa tidak boleh sama, semua untuk saling melengkapi, tidak saling menjatuhkan, agar wisatawan bisa mengunjung destinasi beragam di DW.
Setelah ada potensi unik dan khas, infrastruktur yang tak kalah penting, adalah Toilet yang dibangun berstandar Bintang lima,yang harus ada disetiap DW.Tentu saja dilengkapi Home stay, khas desa namun tidak mengabaikan standar pelayanan dan fasilitas berstandar Internasional, “ Home Stay memiliki peluang besar untuk dikembangkan di DW untuk akomodasi menginap wisatawan, plus ketersedian makanan, dan minuman berupa Restoran, sehingga keinginan wisatawan berbelanja tinggi, “ imbuh Ida Ayu Anggreni Puja.
Ia menjelaskan, dengan segala fasilitas yang ada di DW, keinginan wisatawan lebih lama berlibur di DW, tentu akan menambah nilai ekonomi masyarakat desa, “ Tenaga kerja pun terserap dengan maksimal, apalagi pengelolanya warga masyarakat desa setempat, kami pun tidak tinggal diam, saat ini 1000 orang kelompok Sadar wisata ( Pokdarwis ), sedang dilatih untuk lebih trampil mengelola DW, “ jelas Ida Ayu.
Setelah mereka siap, DW harus menggandeng stockholder seperti ASITA, PHRI, HPI, BHA, dan lainnya, untuk mempromosikannya. ( Nani )