BALI di tengah “Marketing Challenges 4.0”

11
Penulis : K. Swabawa, CHA (Praktisi dan Akademisi Kepariwisataan)

Peradaban umat manusia yang semakin modern dipicu oleh penemuan-penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan termasuk di dalamnya ilmu teknologi informasi dan komunikasi. Memasuki revolusi industri 4.0 ini, tantangan terbesar yang dihadapi adalah fenomena V.U.C.A yaitu kondisi gejolak yang dinamis (volatility), ketidakpastian (uncertainty), kompleksitas yang mengarah pada kesemrawutan (complexity) dan penafsiran majemuk atau ambigu (ambiguity). Sejak diperkenalkan pada kontek pemasaran dalam Harvard Business Review di tahun 2014 lalu (pada awalnya VUCA diperkenalkan pertama kali sebagai strategi peperangan di US Army War College tahun 1990-an), banyak para ahli dunia yang memberikan tafsir serta teori antisipasi untuk dapat keluar dari fenomena tersebut dan sebaliknya dapat berjaya menghadapi tantangan sehingga meraih sukses gemilang. Tidak terkecuali pada sektor pariwisata, fenomena ini semakin dekat menyentuh pada operasional kepariwisataan langsung di berbagai divisi. Hal yang masih sangat hangat dirasakan di Bali ini saat ini adalah kondisi dimana ditemukannya praktek bisnis usaha tidak berijin yang menyasar pangsa pasar Tiongkok. Segmen pasar terbesar pendukung kunjungan wisatawan mancanegara beberapa tahun belakangan ini.

Banyak opini berkembang di tengah pelaku industri pariwisata di Bali sejak Gubernur Bali yang baru saja menjalankan tugasnya beberapa waktu ini langsung mengambil tindakan tegas untuk menutup operasional pengusaha ‘nakal’ tersebut. Entitas yang bisa kita amati disini adalah bahwa gerakan ini merupakan revolusi mental dalam dunia usaha menuju kebaikan dan kejayaan yang baru. Namun sangat disayangkan bahwa bahkan ada yang mengeluhkan bahwa tindakan tersebut berdampak negatif terhadap kunjungan wisatawan Tiongkok yang semakin menurun untuk datang ke Indonesia. Namun, jika dicermati kembali segala kemungkinan dampak yang timbul dari fenomena industri 4.0 ini maka kita akan disadarkan bahwa strategi pemasaran harus selalu kreatif dan mampu menerapkan hal-hal terbarukan sehingga semakin meningkatkan minat calon wisatawan untuk berkunjung. Sebagai contoh, kuatkan persepsi bahwa “tidak semua wisatawan dari Tiongkok adalah low budget tourist”. Karena memang ada segmen untuk medium and high end level traveler-nya di pangsa pasar tersebut. Dikotomi terkait tindakan tegas bagi pengusaha nakal dan menurunnya jumlah kunjungan wisatawan tidak bisa dijadikan parameter bahwa pariwisata akan semakin terpuruk. Marilah kita lebih bijak bahwa saat ini adalah low season, dimana tingkat kunjungan wisatawan memang rendah dibandingkan bulan-bulan lainnya sepanjang tahun. Momen yang bersamaan dengan menurunnya kunjungan wisatawan Tiongkok ini dirasakan terlalu berlebihan sehingga statement yang keliru juga menjadi alasan secara umum akhirnya. Ini sedikit keliru jika strategic marketing and management telah dipahami dan diimplementasikan secara terstruktur dengan baik.

Ilmuwan besar dunia, Albert Einstein, menyampaikan bahwa ‘di setiap kesulitan terbesit sebuah kesempatan’ (in every difficulties, lies opportunity), maka marilah manfaatkan sebesar-besarnya kondisi yang sedang terjadi saat ini untuk pariwisata Bali. Melakukan self assessment baik secara unit usaha maupun secara destinasi termasuk kebijakan pemerintah dan komitmen bersama para stakeholder. Pengusaha dapat lebih fokus untuk perbaikan dan perawatan produknya, para manajemen usaha dapat me-review dan meningkatkan kualitas produknya, serta mengevaluasi penerapan marketing mix-nya terkait ketepatan aplikasi product – place – price – promotion serta people – process – physical environment. Tidak kalah pentingnya adalah penyiapan sumber daya manusia yang lebih berkualitas dengan mengadaptasikan perkembangan teknologi melalui pelatihan-pelatihan strategis sehingga lingkungan kerja semakin bergairah di tengah lesunya bisnis saat ini. Tentunya banyak lagi kajian yang dapat dilakukan untuk menghindari keterpurukan semakin dalam, untuk menyambut tahun 2019 yang semakin gemilang kedepannya.

Sebaiknya berhenti mengeluh, jadikan momen ini sebagai awal komitmen bersama menuju pariwisata Bali yang berkualitas dan berkesinambungan, sebagaimana menjadi idaman masyarakat dan pelaku pariwisata di Bali. Bahwa kondisi saat ini harus diyakini akan dapat menjadi media untuk mengeskalasi semangat, komitmen dan upaya untuk menciptakan iklim usaha dan ekonomi yang sehat. Dari pertemuan yang telah berlangsung antara Gubernur Bali beserta stakeholder pariwisata dengan Konsulat Jendral Tiongkok beberapa waktu lalu dan dilanjutkan dengan rencana kunjungan pemerintah provinsi Bali langsung ke Tiongkok awal Desember ini merupakan langkah konkrit dan strategis bahwa kedua belah pihak memiliki visi dan komitmen yang sama yaitu membangun kerjasama perekonomian yang sehat khususnya pada industri pariwisata yang menjadi sektor andalan utama di Bali. Jadi, mari jadikan era digitalisasi ini sebagai wahana menampilkan kreatifitas tinggi dalam berkompetisi di bidang usaha dan ekonomi dengan mengedepankan kualitas dan konsistensi. (@swa)