Annual Meeting 2018 IMF – World Bank Mengubah Perekonomian Dunia

105

Dari Bali
Tahun 2018 Menjadi Tahun paling sibuk baik pemerintah Pusat maupun Daerah khususnya Bali, yang hampir setiap Tahun menjadi lokasi pertemuan atau meeting, dan berbagai event lainnya.Termasuk Pilkada serentak diantaranya pemilihan Gubernur dan beberapa Bupati di daerah wisata ini.
Namun dari sekian banyak event, Annual Meeting ( AM ) Internasional Monetery Fund ( IMF )- dan World Bank Oktober 2018 nanti, merupakan terbesar. Dimana Bali akan dipadati segala macam aktifitas yang tentu saja menguntungkan baik jangka pendek atau panjang. Pada event ekonomi terbesar di dunia itu akan berlangsung 2.000 pertemuan baik pertemuan kecil maupun besar.
AM akan dihadiri 189 negara IMF-WB dengan 15.000 peserta dari seluruh Negara di dunia. Di antara peserta yang hadir akan terdiri dari Menteri Keuangan dari berbagai Negara, Gubernur Bank Sentral, CEO Industri Keuangan, akademisi terkemuka, lembaga internasional. Agenda besar pada 9 – 14 Oktober 2018 mendatang, diyakini akan membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia, bahkan ASIA atau mungkin Dunia kearah yang lebih baik.
Dari belasan ribu peserta tersebut 3.000-4.000 merupakan delegasi resmi, selebihnya ada staff IMF-WB terdiri dari 1.500 orang, investor 3.500-5.000 orang, observer 1.000 orang, media 1.000 orang dan ada yang membawa keluarganya.
Mereka yang hadir bukan saja untuk Meeting , tetapi bersama keluarga akan berwisata keberbagai objek yang telah disiapkan baik oleh Industri Pariwisata di Bali, tapi juga panitia yang akan mengajak delegasi mengunjungi 6 Daerah tujuan yang menjadi destinasi unggulan, yang infrastruktur seperti hotel, jalan dan fasilitas trasportasinya sudah siap, seperti Banyuwangi, Lombok, Labuan Bajo, Jogjakarta, Sumatera Utara.
Untuk menggali berbagai tantangan dan peluang event berskala besar tersebut, Bank Indonesia mengundang beberapa pakar berbicara dalam Diskusi Media 24-25 Agustus lalu di Nusa Dua. Mereka mempresentasikan pokok pokok pikiran kepentingan Indonesia yang bisa diterima dunia lewat AM- IMF.
Direktur Eksekutif International NGO on Indonesia Development (INFID) Sugeng Bahagijo mengulas peran Indonesia ia mengatakan, jangan sampai Indonesia hanya menjadi Event Organizer (EO) dari besar IMF dan Bank Dunia,“.Indonesia perlu memanfaatkan moment besar tersebut untuk kepentingan negeri sendiri, dan perlu berbuat sesuatu yang berguna baik jangka pendek maupun jangan panjang, “ tandasnya
Sugeng Bahagijo menjelaskan, ada 3 manfaat yang bisa sidapat dari IMF-WB, Indonesia bisa menjadi role model,. “ Di event ini , Indonesia bisa memperlihatkan, prestasi seraya promosi dan investasi, dan wadah dalam membahas isu social seperti kemampuan Indonesia menata e-Goverment yang sudah diterapkan Pemda , gerakan pembarantasan korupsi yang semakin massif, serta pemberdayaan perempuan dalam kancah politik dan tenaga kerja, pemangunan Insfrastruktur, Kebijakaan pajak, Disperistas harga yang memutus kesenjangan ekonomi,”‘ papar Sugeng.
Indonesia diharapkan bisa mempengaruhi agenda pembangunan di tingkat Internasional sesuai kemajuan, perkembangan dan kelemahan.Krisis Indonesia tahun 1998 menjadi tonggak sejarah bagi perkembangan ekonomi Indonesia. Hingga mampu keluar dari belenggu hutang dari IMF, dan bangkit dengan tingkat pertumbuhan ekomomi yang signifikan.
Profil Indonesia yang menempati urutan ke-4 dari prospek Investasi berdasarkan UNCTAD,diharapkan dapat menggairahkan iklim investasi di Indonesia. Namun demikian, status social Indonesia belum bisa dianggap setara, karena a masih adanya masalah sisi pendapatan wanita, dan partisipasi tenaga kerja wanita dalam manajemen tingkat tinggi.Sampai tahun 2030,Indonesia dengan geografis yang luas masih memerlukan 60 juta tenaga kerja terampil, dan 4 juta tenaga kerja terampil, serta semi terampil per tahun.
Disisi lain, Ekonom dari Bank Permata, Josua Pardede mengatakan , dengan adanya event ini akan terjadi percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Indonesia saat ini menduduki peringkat ketiga pertumbuhan tercepat setelah Cina, “ Dengan IMF ini akan menjadi momentum untuk bisa menggenjot investasi,saat ini investasi swasta belum optimal, masih wait and see,” ujar Pardede.
Sementara itu, Ketua Bali Tourism Board (BTB – Gabungan Industri Pariwisata Indonesia GIPI- Bali ), Ida Bagus Agung Partha Adnyana, mengatakan, IMF-WB ini merupakan promosi gratis bagi Bali. Dengan adanya IMF-WB diperkirakan dana yang beredar di Bali dalam hitungan per hari hanya untuk kamar hotel saja diperkirakan mencapai sekitar Rp 100 juta/ orang/ hari , jika dikali 1500 peserta saja total bisa mencapai 1,8 triliun.
“ Bisa dibayangkan kamar yang akan digunakan mencapai 13.500 kamar dengan alokasi biaya USD 600 per malam dengan lama tinggal 10 malam di sekitaran Nusa Dua, Jimbaran, Sawangan, Tanjung Benoa, Uluwatu, maka akan diperoleh Benefit langsung dari AM IMF – WB di Bali, itu belum termasuk biaya transportasi berwisata, “ ungkap IB Agung Parta.
Saat ini, kata Agung Partha, semua kamar dikawasan Nusa sudah habis dipesan oleh peserta dan Delegasi, “ Dengan kontribusi sebesar itu, kita berharap Bali sebagai penyumbang pendapatan yang cukup besar bagi Indonesia, mendapatkan dana perimbangan yang lebih besar dari sebelumnya ,” Harap Agung. ( Nani )