Home Budaya Anak-anak dari Desa Kedis Mainkan Gong Pacek

Anak-anak dari Desa Kedis Mainkan Gong Pacek

1886

Baliinspirasi.com — Gong kebyar dari Kabupaten Buleleng selalu menarik perhatian para penggemar gong kebyar dalam PKB setiap tahun. Bukan karena sekaa gong kebyar Buleleng paling bagus, melainkan karena gong kebyar Buleleng hampir selalu mengeluarkan denyar lebih melengking tapi tetap bulat dan rapi. Ini tentu karena hanya Buleleng yang menggunakan perangkat gong pacek dalam memainkan tetabuhan yang cepat dan ekpsresif.

Dalam PKB tahun 2015 ini Buleleng mengirimkan tiga duta sekaa gong dalam ajang Parade Gong Kebyar. Yakni sekaa gong anak-anak, dewasa dan sekaa gong wanita. Untuk anak-anak, tampil Sekaa Gong Banda Sawitra dari Desa Kedis Kecamatan Busungbiu.  Anak-anak itu tampil di atas panggung terbuka Ardha Candra. Mereka memainkan empat  karya tabuh dan tari yakni tabuh pat lelambatan kreasi, tabuh kreasi, tari kreasi dan ditutup oleh tari dolanan. Anak-anak dari Kedis ini berhadapan dengan sekaa gong anak Pucil Mekembang dari Kabupaten Tabanan. Banda Sawitra memberikan penampilan terbaiknya. Anak-anak ini tampil atraktif penuh semangat yang menunjukkan citra seni Bali Utara di atas panggung.

Perangkat gong pacek diyakini memang menjadi peninggalan seniman Buleleng yang hingga kini tetap dijaga kelestariannya. Gong pacek adalah bilah-bilah gangsa yang ditancapkan di atas perangkatnya. Di bawah bilah diisi semacam bantal agar resonansi gamelan itu masih tetap bisa melengking. Kalau di Bali Selatan bilah-bilah gangsa itu digantung dengan tapi yang terbuat dari kulit. Karena di-pacek, dengar suara gamelan menjadi lebih pendek sehingga cocok dimainkan untuk gong kebyar yang memerlukan kecepatan dan kerumitan yang lebih tinggi dari jenis gong lainnya.

Wakil Bupati Nyoman Sutjidra yang ikut menonton penampilan seniman anak-anak itu memberi apresiasi tinggi terhadap penampilan sekaa Banda Sawitra. I a merasa puas dan bangga akan semangat yang ditunjukkan anak-anak itu. “Anak-anak ini tampil menarik, baik dan semangat,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gede Suyasa mengungkapkan penampilan anak-anak dari Buleleng itu sudah bagus. Ia bahkan memuji suara gamelan sekaligus teknik pukulan anak-anak yang sudah terdengar matang. Suara gamelannya berbeda. “Inilah keunggulan gong pacek yang kini dipertahankan di Buleleng,” ujarnya. (MAO)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here