WITIP, Ketika Guru Ikut Magang 1

81

Berbicara sekolah kejuruan, di benak kita pasti terbayang alat-alat praktik, magang di tempat kerja sampai dengan lulusannya yang dipersiapkan langsung memasuki dunia kerja. Tidak salah memang berfikir seperti itu, karena memang tujuan didirikannya sekolah kejuruan adalah untuk memenuhi itu semua.
Sekolah kejuruan dipersiapkan salah satunya untuk mengurangi jumlah pengangguran di Indonesa. Melalui sekolah kejuruan pula, siswa-siswi dilatih untuk menjadi tenaga-tenaga terampil yang nantinya akan siap ketika mereka memasuki dunia kerja.
Sebelum mereka lulus, sekolah kejuruan sudah mempersiapkan siswa-siswinya magang atau praktik kerja industri (prakerin) di tempat kerja sesuai dengan jurusan masing-masing. Secara umum, usia magang adalah tiga bulan dan guru menjadi pembimbing lapangan di tempat siswa menjalani prakerin.
Siswa-siswi yang menjalani prakerin [idealnya] akan mengaplikasikan teori yang mereka peroleh di bangku sekolah, namun benarkah demikian? Apakah materi yang disampaikan oleh guru sesuai dengan kebutuhan industri? Sudahkah materi yang disampaikan itu sesuai dengan kondisi saat ini?.
Mengapa demikian, karena tentu saja antara teori dan praktik adalah dua hal yang berbeda. Teori adalah serangkaian informasi yang diterima secara langsung oleh siswa melalui guru, sedangkan praktik adalah siswa melakukan sebuah kegiatan yang menghasilkan karya melalui proses praktik secara langsung di tempat kerja. Tidak sedikit siswa mengalami kesulitan di lapangan karena teori yang mereka terima di sekolah dan praktik di lapangan berbeda 180 derajat.
Ketika siswa-siswi mengalami kesulitan dalam menjalani prakerin, apakah tidak demikian dengan gurunya jika mereka yang menjalani magang?. Asumsinya adalah karena guru secara teori sudah hafal berdasarkan buku yang mereka kuasai. Atau jangan-jangan sama dengan siswa, mengalami kesulitan jika mereka harus magang. Hal ini beralasan, dikarenakan guru tersebut adalah orang yang berada di ruang dan waktu yang berbeda antara teori dan praktik setelah terpisah oleh waktu yang lama pada saat praktik magang dulu. Mungkin ada yang sudah 20 tahun lalu menjalani magang, bahkan lebih dari itu.

Solusi yang Ditawarkan
Untuk membuktikan bahwa guru sekolah kejuruan masih bisa melakukan praktik atau tidak ya harus terjun langsung menjadi peserta magang kembali. Mereka menjadi peserta magang tidak berarti menurunkan harga diri mereka, justru akan meningkatkan kepercayaan diri mereka di hadapan siswa serta mampu mengadopsi hal-hal terbaru yang mereka temukan di tempat magang untuk disampaikan kepada siswa. Karena perubahan kerja di industri begitu cepat berganti seiring perubahan zaman dan permintaan customer. Begitu juga dengan perubahan teknologi informasi, semua perubahan itu begitu cepat di dunia industri, sedangkan materi di sekolah kejuruan banyak yang tidak up to date dari dunia industri, karena mereka hanya mengandalkan text book semata.
Atas dasar tersebut, Swisscontact WISATA II meluncurkan program WISATA Teacher Internship Program (WITIP). Program ini menyasar guru-guru sekolah kejuruan jurusan pariwisata agar mereka mampu menyerap informasi aktualdan pengalaman terbaru dari tempat mereka melakukan magang. Teori yang mereka kuasai di sekolah akan dipraktikkan secara langsung di tempat kerja.
Gap yang terlampau jauh antara teori dan praktik bisa diminimalkan melalui program magang guru sekolah kejuruan ini, mereka akan melakukan pekerjaan sebagaimana teori yang mereka ajarkan kepada siswa. Jangan beranggapan sudah menguasai teori sehingga tidak perlu melakukan praktik magang, terlebih jika menyepelekan prakerin.
Guru yang dikirim oleh Swisscontact WISATA II untuk melakukan magang di dunia usaha atau industri ini akan dipertemukan dengan dunia usaha, agar teori yang mereka kuasai bisa langsung dipraktikkan di tempat magang, meresapi kembali bagaimana jika mereka menjadi siswa magang.
Di tahun 2017 ini, WITIP telah memasuki tahun ketiganya, yang juga adalah tahun terakhir penyelenggaraannya oleh Swisscontact WISATA II. Kali ini, WITIP di Bali mendatangkan guru-guru dari Flores, Surabaya, dan SMK model dan aliansi dari Bali, sedangkan para guru dari destinasi Toraja dan Wakatobi mengikuti program WITIP di Makassar.
WITIP berlangsung pada tanggal 01-31 Juli 2017. Para guru peserta WITIP di Bali tersebar ke 10 industri, yang terdiri atas 7 hotel yaitu Mercure Bali Sanur Resort, Fairmont Sanur Beach Bali, Hotel Santika Siligita Nusa Dua Bali, Aston Kuta Hotel & Residence , Bali Dynasty Resort, Swiss-bellResort Watu Jimbar, dan Novotel Bali Nusa Dua; serta 3 tour operator yaitu Asialink Holidays, Lila Tour, dan Antavaya. Para guru berkesempatan magang di divisi-divisi industri yang sesuai dengan latar belakang kompetensinya, seperti housekeeping, front office, kitchen, ticketing, dan perjalanan wisata.
WITIP adalah program magang yang dikemas dengan unik. WITIP tidak hanya memfasilitasi tempat magang, melainkan juga menyiapkan kegiatan relaksasi bagi para guru, seperti Sabtu Seru dan Outing. Sebagai penutup kegiatan, para guru melaksanakan evaluasi, presentasi laporan, dan mendiskusikan rencana tindak lanjut. Kegiatan penutupan ini dilaksanakan di kantor Destinasi Flores pada tanggal 30 Juli 2017.
Salah seorang peserta WITIP, Imeldaa Jalut, guru SMK Santo Thomas Maumere Flores ketika diwawancarai Swisscontact mengatakan bahwa, ”Dengan kegiatan WITIP ini saya mendapatkan pengalaman baru baik teori maupun skills”, ujarnya. Milla Kirana Dewi Lestari, guru SMKN 3 Denpasar mengatakan, ”Dari WITIP bertambah pengalaman dan pengetahuan, teori langsung dipraktikkan di tempat magang”, pungkasnya.