Kismaya, Spd Wakil Kepala Sekolah SMKN 1 Cikarang

136
Jpeg

SMK dengan Jaringan Kuat ke Perusahaan-perusahaan Besar

Sekolah ini menjalin kerjasama dengan berbagai perusahaan besar. Lulusannya juga banyak yang menjadi pejabat di berbagai perusahaan besar.

SMKN 1 Cikarang, Bekasi, terbilang salah satu sekolah unggulan yang ada di Kabupaten Bekasi. Program-program pendidikan yang ada di SMKN ini terbilang berbasis teknologi semua. Sekolah ini juga menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar. Termasuk dengan luar negeri seperti Jepang dan China.

Wakil Kepala Sekolah SMKN 1 Cikarang Kismaya, SPd, dalam wawancara dengan Bali Insipirasi, beberapa waktu lalu, mengungkapkan, program-program pendidikan di SMKN 1 yaitu, teknologi rekayasa mesin.Ada tiga program keahlian mesin; ada permesinan, ada mekanik industry, ada pengelasan.
Kemudian otomotif ada dua; TKR kendaraan ringan mobil dan sepeda motor.Kemudian dikelistrikan ada satu, elektronikindustri. Kemudian dibangunan punya modeling, ada gambar. Dan teknologi jaringan punya komputer jaringan. “Jadi, ada delapan program. Semuanya teknologi,” kata Kismaya.

SMKN 1 Cikarang terbilang sekolah yang banyak menjadi incaran para orangtua di Bekasi untuk memasukkan anak-anak mereka sekolah di situ. Kenapa? Kismaya bilang, mungkin karena sekolah ini menjalin kerjasama dengan berbagai perusahaan besar. Lulusannya juga banyak yang menjadi pejabat di berbagai perusahaan besar. “Apakah ini kelebihan yang dilihat orangtua?Karena, kalau kita didalam tahu persis sekurangnya apa lemahnya apa kita sudah tahu banyak,” ujar Kismaya. “Tapi, orangtua melihat mungkin ada sisi lebih.Jujursaja,untuk masalah kerja cepat diterima, kita masih mempertahankan kualitas sebisa mungkin.”

Untuk urusan kerjasama dengan perusahaan, Kismaya bilang, sekolah ini jaringannya sudah kuat ke berbagai perusahaan besar.

Kismaya lanjut mengatakan, SMKN 1 Cikarang juga menjalin kerjasama untuk mengirimkan siswa belajar ke Jepang. “Ini berlangsung tiga tahun sudah,” ujarnya.

Demikian juga dengan China. Kata Kismaya, ada program untuk bea siswa bagi siswa berprestasi, untuk melanjutkan kuliah di Delta Silikon. “Kalau yang ke Jepang, siswa kita magang tiga tahun, dengan jumlah 50-70 siswa tiap tahun,” ungkap Kismaya.

Untuk mengikuti program ini, dilakukan dua kali tes. Bulan Oktober untuk kelas tiga. Kalau gagal, bisa ikut lagi pada Februari. “Setelah itu, masuk diklat enam bulan untuk pelatihan budaya dan bahasa. Baru kemudian diberangkatkan,” terang Kismaya. “Itu sudah berlangsung tiga tahun. Yang gelombang pertama sudah pulang.”

Untuk total kelas,Kismaya bilang, di SMKN 1 terdiri sebanyak 71 kelas, dengan luas tanah mencapai 7,6 hektar.“Jadi, di Kabupaten Bekasi ini, SMKN 1 paling luas untuk bangunan sekolahnya,” kata Kismaya. “Makanya, kita berfikir, dengan bangunan seluas ini hanya meluluskan siswa seratus dua ratus orang kan jadi tidak efisien. Jadi, kita berusaha memenuhi batas maksimal sekolah yang diperbolehkan pemerintah sampai berapa puluh kelas, kita ikuti.”

Karena tanah di Bekasi sudah ideal sekali kalau dipakai bisnis. “Sayang sekali kalau mengajarkanlulusananak Bekasicuma sedikit.Makanya, kita ambil sekolah
besar 71 kelas,” ungkap Kismaya. “Itu sudah diluar sekolah yang standar.”

Kismaya yang masuk ke SMKN 1 Cikarang pada 1993 cerita, sekolah ini dulu namanya SMK 1 Bintara, yang sekarang masuk Bekasi Kota. Kemudian, sekolah ini pindah ke Cikarang. Namanya STM Negeri Bekasi. “Itu yang pertama di Bekasi,” kata Kismaya. “Dan kemudian masalah tawuran muncul karena ini sekolah bekas SPG dengan pintu keluar begitu banyak.”

Kebetulan,kata Kismaya, dirinya juga ditugaskan di bidang kesiswaan. Jadi, paham betul kelemahan di SMKN 1 ini. “Pintu terlalu banyak, sehingga memungkinkan anak keluar masuk darimana saja,” ungkap Kismaya. “Kalaupun kita tekan agar dia disiplin dengan berbagai macam cara yang kita lakukan, tetap anak itu kalau karakternya ingin menyimpang dan melanggar itu, memudahkan sekali untuk pergi atau kabur.”

Tapi, lanjut Kismaya, kalau anak itu dewasa betul, dia paham dengan tugas dan kewajibanya sebagai siswa,dia betul-betul dewasa disini, akhirnya muncul yang namanya sekolah under covernya pasti ada. “Nah, termasuk dengan adanya tawuran dulu pertama kali pindah disini ada sekolah swasta STM Wijaya Kusuma.Adanya diseberang jalan yang merasa tersaingi anak-anaknya.Akhirnya, ributnya antar seberang sekolah,” kenang Kismaya. “Tapi, dalam perjalanannya, makin lama makin menghilang.”

Mungkin, menurut Kismaya, ada segelintir alumni yang kehidupannya tidak sukses, akhinya mengajak mengintimidasi siswa. “Tapi, kita sebagai guru, sudah berusaha untuk mendatangkan alumni yang sudah sukses menjadi Direktur Pemasaran dan Kepala Bagian untuk hadir pada setiap MOS siswa baru untuk mennyampaikan biografinya, yaitu perjalanannya semasa di SMKN 1 Cikarang agar siswa baru memahami apa yang dilakukan siswa dalam menimba ilmunya disini,” ujarnya. “Karena, jujur,kita menang dengan alumni banyak. Jadi, banyak relasi di perusahaan-perusahaan. Oh, ini adik kelas saya,sehingga persaingan dengan sekolah lain juga ada, yaitu unsur menarik siswanya ke perusahaan sehingga untuk bisa masuk ke industri lebih mudah, asal tidak punya kekurangan secara pribadi.”

Dan,Kismaya menegaskan, untuk siswa yang kedapatan melakukan tawuran, akan diberi sanksi.Apalagi, di SMKN 1 ini tingkat drop outnya (DO) tinggi.Dalam satu tahun, lebih dari seratus yang DO.“Kalau memang sudah tidak bisa diurus, dari mulai peringatan pertama kedua dan ketiga.

Peringatan satu yang berbentuk surat.Kemudian, perigatan kedua tulisan lagi.Yang ketiga, dikembalikan ke orangtuanya,” tegas Kismaya. “Kalau siswa tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan,memang kondisinya seperti ini.Barangkali mungkin itu yang membuat secara prestasi diakhir itu masih stabil.Kalau kita lepas, mungkin bisa jadi preman.”
yuliansyah