Kisah Novel “Sukreni Gadis Bali” dalam Panggung Drama Gong

2523

Novel “Sukreni Gadis Bali” yang dikarang sastrawan Pujangga Baru kelahiran Singaraja, AA Pandji Tisna, kembali dialihkreasikan ke dalam bentuk seni pertunjukkan. Kali ini, kisah itu diangkat dalam bentuk drama gong oleh gabungan seniman dari Sanggar Dwi Mekar (SDM) dan seniman dari Kampung Seni Banyuning (KSB) Singaraja.

Dua sanggar seni yang berbeda aliran itu — SDM beraliran tradisional dan KSB berbasis teater modern – bersama-sama menggarap karya sastra itu menjadi bentuk pertunjukan yang menarik dalam ajang Bali Mandara Mahalango di Taman Budaya Denpasar, Sabtu (25/7). Pertunjukan itu menjadi unik dan menarik karena para pemainnya terdiri dari pemain yang biasa bermain drama gong dan bondres serta pemain muda yang terbiasa bermain teater modern. Meski unsur-unusr drama gong lebih dominan, namun pertunjukan itu menawarkan sentuhan modern yang bisa dinikmati oleh penonton umum.

Dramawan Putu Satria Kusuma yang menyutradarai pementasan itu mengatakan dirinya sudah beberapa kali sebenarnya menggarap cerita “Sukreni Gadis Bali” di atas panggung drama. Pada Buleleng Festival (Bulfest) tahun 2013 cerita itu juga sempat dimainkan di Sasana Budaya Singaraja. Selain itu, cerita itu juga pernah dimainkan di Antida Sound Garden di Denpasar. Namun dalam pementasan itu, cerita novel “Sukreni Gadis Bali” dimainkan dengan konsep modern. Selain secara dominan menggunakan bahasa Indonesia, pementasan itu juga ketat dengan pakem teater modern seperti taat pada naskah, tata lampu digarap maksimal, serta musik yang dimainkan dengan konsep musik modern.

Namun pada penggarapan kali ini, cerita “Sukreni Gadis Bali” digarap secara dominan menggunakan konsep seni drama gong. Selain menggunakan bahasa Bali, garapan ini juga diiringi dengan gamelan atau musik tradisional. “Kami mencoba menggabungkan konsep modern dan tardisional, namun penggunaan bahasanya tetap bahasa Bali dengan iringan musik gamelan Bali,” ujarnya.

Pementasan “Sukreni Gadis Bali” di Taman Budaya mendapat sambutan luar biasa. Tribun Ardha Candra yang berkapasitas puluhan ribu penonton itu dipenuhi penikmat yang rindu terhadap kehadiran drama gong yang corak dan warna baru. Para penonton tertawa ketika mendengar guyonan-guyonan khas Buleleng yang gamblang dan terbuka tanpa tedeng aling-aling. Di sisi lain mereka juga sangat menikmati kisah “Sukreni Gadis Bali” dengan khusyuk.  Karena, meski ceritanya ditulis sekitar tahun 1930-an, namun cerita itu mudah dicerna dan tetap sesuai dengan konteks zaman masa kini.

Kisah novel “Sukreni Gadis Bali” secara kualitas bisa disejajarkan dengan novel lain yang juga terkenal pada zamannya seperti Siti Nurbaya.  Kisahnya dimulai ketika Men Negara, seorang pedagang nasi dan kopi di wilayah Bingin Banjah, memotong babi. Men Negara didatangi I Gusti Made Tusan, seorang mantri polisi. Tusan mendatangi Men Negara atas laporan seorang mata-mata bernama I Made Aseman. Aseman melaporkan bahwa Men Negara memotong babi tanpa izin.  Namun, di warung Men Negara, polisi Tusan jatuh cinta pada Ni Negari, anak dari Men Negara.

Suatu hari datang seorang gadis bernama Luh Sukreni ke warung Men Negara. Kedatangan gadis itu  untuk mencari I Gde Swamba, pemilik kebun kelapa yang ditaksir oleh Ni Negara. Kedatangan Sukreni membuat Men Negara dan Ni Negari cemburu dan iri hati. Sementarav mantri polisi Tusan beralih jatuh cinta kepada Sukreni dan berniat menjadikan Sukreni sebagai wanita simpanannya.

Men Negara pun mernacang siasat jahat. Ia tak ingin Sukreni merebut Suamba. Sekaligus ia juga tak ingin Tusan memperistri Ni Negari. Maka ia merancang untuk memberi kesempatan kepada Tusan untuk bisa berdua dengan Sukreni di sebuah kamar. Dari siasat itu ia pun meminta imbalan kepada Tusan.

Suatu hari ketika Luh Sukreni datang lagi ke warung Men Negara, ia disambut oleh Men Negara dan Ni Negari dengan ramah. Mereka menawarkan Sukreni untuk menginap. Sukreni bersedia karena melihat keramahan Negari, apalagi Suamba yang dicarinya saat itu sedang ke Banyuwangi. Pada malam saat menginap itulah Sukreni diperkosa oleh I Gusti Made Tusan. Namun betapa terkejutnya Men Negara ketika dia mengetahui kenyataan bahwa sebenarnya Luh Sukreni adalah anak kandungnya. Itu diketahui dari I Sudiana, teman seperjalanan Luh Sukreni.

Sukreni anak yang dilahirkan Men Negara ketika ia menikah dengan I Nyoman Raka di Karangasem. Anak itu ditinggalkan ketika masih bayi.

Tersebutlah kemudian seorang anak bernama I Gustam. Anak itu adalah anak Sukreni yang lahir dari hasil perkosaan Tusan. I Gustam tumbuh menjadi seorang pemuda yang memiliki perangai dan tabiat kasar, bahkan dia berani memukul ibunya. Setelah dewasa, ia mencuri sampai akhirnya masuk tahanan polisi. Di dalam tahanan, I Gustam justru banyak memperoleh pelajaran cara merampok dari I Sintung, salah seorang perampok dan penjahat berat.

Setelah bebas dari penjara I Gustam melakukan perampokan bersama teman-temannya di warung Men Negara yang tak lain adalah ibunya. Saat merampok ia dipergoki mantri polisi Tusan yang tak lain adalah ayahnya. Tusan dan Gustam kemudian berkelahi yang berakhir dengan tragis. Ayah anak itu akhirnya sama-sama tewas.

Lalu, siapakah Pandji Tisna, pengarang novel yang terkenal itu? Anak Agung Pandji Tisna lahir di Singaraja, 11 Februari 1908. Meninggal pada tanggal 2 Juni 1978, di Lovina Beach. Ia adalah satu-satunya sastrawan angkatan Pujangga Baru yang berasal dari Bali. Selain sebagai sastrawan ia dikenal sebagai pendiri kawasan wisata Lovina di Kalibukbuk.

Ia menempuh pendidikan di HIS Singaraja, Mulo Batavia. Tahun 1925 ia menjadi pedagang kopra.  Tahun 1935 membuka sekolah rendah berbahasa Belanda De Sisya Pura School, menjadi guru bahasa Inggris di sekolah Pertiwi Putra, mengarang lagu dan menjadi pemain biola pada sebuah orkes komedi Stambul. Ia membangun tempat tinggal di kawasan kebun kelapa milik ayahnya di tepi pantai di kawasan Kalibukbuk. Kawasan itu dia beri nama Lovina yang kemudian dikenal sebagai kawasan wisata.  Selain novel “Sukreni Gadis Bali” (Balai Pustaka, 1936), ia juga menulis novel Ni Rawit Centi Penjual Orang (Balai Pustaka, 1935), Dewi Karuna (1939), I Made Widiadi (1955) dan sejumlah novel lain.

Sebelum dipentaskan dalam bentuk drama gong dan teater, kisah “Sukreni Gadis Bali” sudah pernah diangkat bentuk seni arja oleh seniman kawakan yang mantan rektor ISI Denpasar, Prof. Dibya. Sbelumnya lagi kisah ini sempat digarap dalam bentuk film layar lebar dan sinetron yang ditayangkan sebuah TV nasional. (MAO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here