Batu Akik, dari Hobi Hingga Cinderamata KAA

1432

JAKARTA – Trend batu akik rupanya turut mewarnai peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA) ke-60 yang diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat pada 19-24 April 2015 lalu. Bagaimana tidak, seperti diketahui Walikota Bandung Ridwan Kamil memberikan cinderamata berupa batu akik kepada peserta KAA.

Selain menjadi trending topic di Bandung, batu mulia tersebut juga digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebagai peringatan KAA dan hari ulang tahun TMII pada 16 April 2015. Great Stone Nusantara sebagai tim penyelenggara yang dibina oleh Bapak. Tommy Soeharto mengadakan pameran batu akik guna menyambut peringatan Konferensi Asia Afrika pun sebagai pengenalan kekayaan alam Indonesia di mancanegara.

“Pameran batu akik ini dalam rangka KAA di Bandung, diadakan di TMII karena bertepatan dengan ulang tahun TMII. Kita berharap dengan adanya pameran ini dapat mengangkat peradaban batu Indonesia mampu menembus pasar global, di mana batu bisa diolah menjadi lebih dari sebuah permata,” ungkap Fajar, salah satu panitia dari Great Stone, Senin (20/04) lalu.

Great Stone sendiri sebagai wadah bagi para pecinta batu akik terbentuk bermodalkan niat dan didasarkan oleh sumber daya alam Indonesia yang menjadi aset negara. Pameran ini juga bertujuan untuk mengembangkan suatu program untuk mempertahankan kekayaan alam Indonesia.

“Saya pribadi berharap agar dengan adanya wadah seperti ini masyarakat Indonesia bisa lebih mencintai hasil buminya dengan mempertahankan dan menyelamatkan sumber daya alam, jangan sampai kecolongan. Batu akik ini merupakan aset negara kita. Saya sendiri mendirikan wadah untuk pecinta batu akik ini awalnya karena saya menyukai batu akik, dan hobi mengoleksi batu-batu tersebut,” tutur Purwanto selaku pemimpin Great Stone Nusantara.

Batu-batu mulia yang dijejerkan di stand Great Stone Nusantara ini di antaranya batu dari Pacitan, yaitu red baron, golden supreme, dan golden yellow. Adapun jenis batu malachite yang ditemukan dan diteliti baru-baru ini. “Di sini memang lebih banyak batu dari Pacitan. Akhir-akhir ini lumayan banyak ditemukan batu baru, tapi baru beberapa saja yang sempat diteliti di lab,” jelas Fajar.

Bukan hanya menggelar pameran saja, komunitas yang berdiri sejak beberapa bulan lalu ini juga sering mengadakan lomba dengan mencari batu yang berkualitas dan packaging yang menarik. “Ini memang even pertama kami, sering mengadakan lomba juga, dan biasanya yang jadi juri itu masyarakat. Masyarakat saat ini juga sedang menyukai batu akik, jadi biar masyarakat saja yang menilai batu apa yang paling indah, paling bagus, dan berhak menjadi juara. Lomba ini juga bertujuan agar para pecinta batu akik dapat menjaga keindahan koleksinya,” tambah Fajar.

Sebelumnya batu akik memang sudah terkenal, namun hanya di lingkungan orang tua saja. Tidak mengenal usia, hingga saat ini batu mulia yang tersimpan di Tanah Air diminati semua kalangan, mulai dari anak-anak sampai orang tua.

Veronica, salah satu pengunjung mengaku baru kali ini menyukai batu akik karena bentuknya yang unik dan warnanya yang indah. “Sebelumnya saya biasa saja kalau melihat batu akik, karena menurut saya batu itu kebanyakan dipakai oleh bapak-bapak, apalagi saya sering lihat Tessy Kabul basuki,Doyok,Kadir Srimulat (pelawak Indonesia) memakai cincin dari batu akik. Tapi begitu sekarang booming lagi dan saya lihat bagus-bagus jadi saya juga tertarik untuk memakainya. Saya lebih suka yang bluesafir,” ujarnya.

Selain Veronica, Adit pengunjung lainnya yang masih duduk di bangku SMP mengatakan bahwa ia menyukai batu akik karena sering melihat koleksi orangtuanya. “Suka ngeliat koleksi ayah, teman-teman aku juga ada yang pakai batu ini, aku suka karena lagi ramai pada pakai batu ini. Kalau untuk jenisnya aku kurang tahu, tapi aku suka karena warnanya yang bagus,” paparnya. Nisa/BI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here